Kasus Pelanggaran Akademik Marak Dua Kampus China Beri Sanksi Tegas
Kasus dugaan pelanggaran akademik kini semakin banyak mencuat di dunia internasional. Salah satu kasus terbaru menyeret seorang warga negara Indonesia (WNI) saat mengikuti konferensi ilmiah internasional di Denmark, seperti dilansir dari Detikcom.
Pembahasan kasus tersebut bergulir setelah terduga pelaku, Prihantini, melakukan presentasi sebanyak dua kali. Dalam presentasi tersebut, ia memperkenalkan diri sebagai dua orang yang berbeda, yaitu Riana Dwi Kurniawati dan Dimas Fajar Prasetyo.
Selain masalah identitas, hasil riset yang dipresentasikan juga memicu banyak pertanyaan. Keaslian dan dasar ilmiah dari penelitian tersebut diragukan, bahkan muncul dugaan adanya manipulasi data.
Dugaan pelanggaran riset ternyata tidak hanya mengemuka di Indonesia. Dua universitas di China baru-baru ini memberikan penegasan sanksi yang sangat keras terhadap para pelaku pelanggaran karya akademik dalam riset mereka.
Universitas Nankai Putus Kontrak Peneliti dan Copot Dekan
Mengutip Xinhua, Universitas Nankai menyampaikan bahwa pihak manajemen telah mengakhiri kontrak dengan seorang peneliti postdoctoral. Keputusan ini diambil setelah kampus menemukan kejanggalan dalam makalah yang dibuat oleh peneliti tersebut.
Sanksi berat juga menyasar struktur pimpinan fakultas. Penulis utama yang menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Hayati langsung dicopot dari jabatannya, sedangkan penulis utama lainnya menerima surat peringatan.
Manajemen Universitas Nankai menyatakan bahwa insiden ini menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat pendidikan internal. Pihak kampus menegaskan bahwa integritas penelitian adalah dasar utama untuk membangun lingkungan riset yang bersih dan jujur.
Pencopotan Jabatan dan Penurunan Pangkat di Universitas Sun Yat-sen
Langkah disipliner serupa diterapkan oleh Universitas Sun Yat-sen. Pihak otoritas kampus telah mencopot dua anggota fakultas dari jabatan mereka sebagai wakil kepala lembaga.
Kebijakan tegas ini diambil setelah karya akademik mereka terbukti memuat gambar serta data yang bermasalah. Selain pencopotan jabatan, salah satu dari mereka juga menerima sanksi berupa penurunan pangkat, kritik, serta peringatan keras.
Merespons kasus ini, Universitas Sun Yat-sen berjanji akan memperkuat edukasi mengenai integritas penelitian kepada seluruh civitas akademika. Pihak kampus berkomitmen meningkatkan mekanisme pengelolaan data penelitian.
Manajemen universitas juga menekankan penguatan tata kelola catatan eksperimen, penggunaan gambar, hingga prosedur pengajuan makalah. Sistem pengawasan dan verifikasi internal akan terus disempurnakan demi mencegah kejadian serupa berulang.