Kapal Komersial Dihantam Proyektil Misterius di Selat Hormuz

Share

Jalur pelayaran energi vital dunia kembali memanas setelah sebuah kapal komersial dilaporkan dihantam oleh proyektil tidak dikenal di Selat Hormuz pada Kamis (25/6). Serangan ini menjadi insiden pertama yang dilaporkan terjadi pasca-tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Peristiwa ini, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, menjadi pukulan telak bagi upaya pemulihan stabilitas keamanan di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan konsultan keamanan, kapal yang menjadi sasaran adalah Ever Lovely, sebuah kapal kontainer berukuran sedang yang mengibarkan bendera Singapura.

Lambung samping dan area anjungan kapal tersebut dilaporkan mengalami kerusakan saat sedang berlayar di tenggara Oman. Kendati demikian, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Ever Lovely masih mampu melanjutkan pelayaran melewati selat sempit itu pada Jumat dini hari.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang bertindak sebagai penghubung antara pelayaran dagang dan militer, mengonfirmasi terjadinya serangan tersebut namun tidak merilis nama kapal secara spesifik. UKMTO mengimbau seluruh kapal yang melintas untuk "berlayar dengan tingkat kewaspadaan tinggi."

Hingga berita ini diturunkan, unit Evergreen Marine Corp di Taiwan dan Singapura, yang mencantumkan kapal tersebut dalam armada mereka, belum memberikan respons terhadap permintaan konfirmasi melalui email.

Dampak dari kabar insiden tersebut langsung memicu reaksi di pasar energi. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi hari itu, mendekati US$76 per barel, setelah sebelumnya sempat kembali ke level sebelum perang.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait peristiwa ini. Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

AS kini sedang menyelidiki pelaku serangan dengan syarat identitas pejabat dirahasiakan, termasuk memeriksa kemungkinan keterlibatan petinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau tindakan sepihak personel tingkat bawah. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun pencemaran lingkungan akibat insiden ini.

Presiden Donald Trump tidak menyinggung insiden tersebut secara langsung. Namun, dalam jamuan makan malam bersama para petani di Gedung Putih pada Kamis malam, ia menyebut bahwa Iran akan segera membeli gandum dan kedelai dari AS.

"Proses itu akan segera dimulai. Nilainya juga akan sangat besar," kata Trump.

Apabila Iran terbukti bertanggung jawab atas insiden ini, kepercayaan para pemilik dan awak kapal untuk melintasi koridor minyak tersebut diprediksi akan kembali terguncang. Teheran sendiri berulang kali menyatakan kapal tidak dapat melintas tanpa izinnya, bahkan sejumlah kapal tanker sempat berbalik arah pada hari yang sama.

Otoritas Selat Teluk Persia Iran pada Kamis menyatakan bahwa setiap pelayaran yang menggunakan jalur di luar kerangka yang ditetapkannya tidak akan memperoleh perlindungan asuransi maupun jaminan keselamatan.

Pasca-serangan ini, International Maritime Organization (IMO) langsung mengumumkan penghentian sementara operasi evakuasi kapal di Selat Hormuz demi keselamatan para pelaut.

"I telah menerima laporan mengenai serangan hari ini di Teluk Oman terhadap sebuah kapal yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz," kata Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam sebuah pernyataan.

"Kapal tersebut tidak melintas dalam kerangka evakuasi IMO. Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut merupakan prioritas utama. Oleh karena itu, untuk memastikan pendekatan yang terkoordinasi dan keselamatan navigasi, rencana evakuasi akan dihentikan sementara hingga terdapat kejelasan lebih lanjut."

Beberapa jam sebelum insiden, perusahaan intelijen pelayaran Windward Maritime memantau setidaknya tiga kapal niaga, termasuk dua kapal tanker super berukuran sangat besar, berbalik arah saat berupaya keluar dari Selat Hormuz melalui jalur sisi Oman. Kapal-kapal tersebut berputar balik setelah IRGC memberikan instruksi melalui komunikasi radio dan media sosial.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author