Kanselir Jerman Friedrich Merz Masuk Daftar Buronan Koran Iran

Share

Surat kabar Iran Hamshahri merilis daftar berisi 13 politisi internasional yang diklaim sebagai buronan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu, Ali Khamenei. Dikutip dari Detikcom, media ultrakonservatif tersebut menyatakan bahwa para tokoh yang ada di dalam daftar bakal membayar dengan harga tertinggi.

Kanselir Jerman Friedrich Merz dari Partai Demokrat Kristen (CDU) menjadi salah satu nama yang tercantum dalam rilis tersebut. Selain Friedrich Merz, dokumen itu juga memuat nama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Melalui sebuah ilustrasi yang dipublikasikan, para pemimpin dunia tersebut digambarkan menggunakan seragam tahanan berwarna oranye khas AS. Hamshahri sendiri merupakan surat kabar yang memiliki jangkauan pembaca mencapai dua juta orang per hari.

Ketegangan ini terjadi setelah sejumlah negara Eropa memberikan dukungan terhadap operasi militer Iran sejak Februari lalu. Dukungan tersebut diwujudkan dengan izin perlintasan udara bagi pesawat militer AS atau pemanfaatan pangkalan udara, meskipun Italia menolak permintaan Washington terkait fasilitas transit pesawat pembom.

Pada awal Maret, sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran berlangsung, Friedrich Merz sempat memberikan pernyataan mengenai situasi politik di Teheran.

"Rezim mullah akan segera berakhir" kata Friedrich Merz.

Friedrich Merz kala itu juga menyampaikan pandangan mengenai posisi politik negaranya terhadap situasi di Timur Tengah tersebut.

"Kami memiliki kepentingan yang sama dengan AS dan Israel untuk mengakhiri teror rezim ini serta menghentikan program persenjataan nuklir dan rudal balistiknya." ujar Friedrich Merz.

Kendati demikian, pemerintahan Republik Islam Iran tetap bertahan hingga saat ini. Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada awal operasi militer tidak menyebabkan runtuhnya kekuasaan rezim tersebut.

Posisi kepemimpinan kemudian diteruskan oleh sang putra, Mojtaba Khamenei. Melalui keterangan tertulis, Mojtaba Khamenei memastikan akan melakukan tindakan balasan atas kematian ayahnya.

Ancaman tersebut sempat ditayangkan oleh Hamshahri dalam platform digital mereka pada pekan lalu.

"Pembalasan tidak dapat dihindari. Para penjahat akan membawa keinginan mereka untuk mati dengan damai ke liang kubur." tulis Hamshahri.

Pernyataan tersebut diketahui tidak dicetak pada edisi hari Minggu dan telah dihapus dari laman resmi surat kabar bersangkutan sejak awal pekan ini.

Situasi ini memicu reaksi dan kewaspadaan dari otoritas keamanan serta pejabat pemerintahan di Berlin. Ketua Komite Pengawas Intelijen Bundestag, Marc Henrichmann, meminta jajarannya untuk mengantisipasi pergerakan eksternal.

"Kita harus mengasumsikan bahwa dinas intelijen Iran juga sedang merencanakan serangan di Eropa." kata Marc Henrichmann.

Aparat penegak hukum Jerman kini meningkatkan pengawasan terhadap potensi penggunaan agen sekali pakai (disposable agents). Istilah ini merujuk pada individu yang direkrut secara khusus untuk melancarkan satu aksi teror spesifik.

Juru bicara kebijakan dalam negeri Fraksi Partai Demokrat Sosial (SPD), Sebastian Fiedler, turut membenarkan tingginya indikasi ancaman keamanan saat ini. Menurutnya, dinamika politik terbaru berpotensi memicu pergerakan kelompok radikal maupun pelaku tunggal.

Kendati ancaman meningkat, penambahan pengamanan khusus untuk Friedrich Merz dinilai belum diperlukan karena sang Kanselir sudah berada di bawah pengawalan yang sangat ketat. Tanggapan serius juga datang dari Wakil Presiden Bundestag dari Partai Hijau, Omid Nouripour.

"Di Jerman, kami telah berkali-kali mengalami terorisme yang diekspor oleh negara Iran. Surat kabar itu tidak mungkin bisa menerbitkan ancaman pembunuhan tersebut tanpa persetujuan sensor jika rezim tidak menghendakinya. Karena itu kita harus menganggap ancaman ini serius. Ketika sebuah rezim menargetkan kepala pemerintahan kita, itu merupakan tindakan permusuhan dan harus diperlakukan demikian." tutur Omid Nouripour.

Di sisi lain, perwakilan resmi pemerintah Jerman bersikap sangat hati-hati dalam memberikan respons. Wakil juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Meyer, menegaskan bahwa pihak eksekutif telah memantau situasi tersebut namun menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Berdasarkan data intelijen, otoritas keamanan memperkirakan ada sekitar 180 agen yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) atau dinas intelijen Iran yang aktif di Jerman. Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (BfV) menyatakan bahwa dinas rahasia Teheran memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan sabotase berskala besar.

"Tindakan tersebut mencakup segala hal, mulai dari ancaman terhadap individu tertentu hingga pengumpulan intelijen untuk merencanakan kemungkinan serangan." kata pihak BfV.

BfV menambahkan bahwa struktur operasi intelijen Iran saat ini sedang melemah akibat tekanan militer di dalam negeri mereka. Namun, Jerman tetap mewaspadai potensi pengalihan operasi ke luar negeri secara masif apabila tekanan politik di Timur Tengah mulai mereda pascaperang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author