Psikolog Ungkap Kalimat Sederhana yang Mampu Pererat Hubungan Orang Tua dan Anak

Share

Kedekatan hubungan antara orang tua dan anak dapat dibangun melalui kebiasaan serta komunikasi yang positif. Dikutip dari HaiBunda, para psikolog mengungkapkan terdapat satu kalimat sederhana yang memiliki kekuatan besar untuk meningkatkan ikatan emosional dalam keluarga.

Ucapan tersebut mencerminkan kematangan emosional orang tua sekaligus mampu membangun kembali kepercayaan anak yang sempat memudar. Peran orang tua sangat krusial bagi psikis anak, bahkan hingga mereka tumbuh dewasa.

Menurut psikolog Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C, orang tua tanpa sadar menjadi suara batin yang menemani perjalanan hidup anak-anak mereka.

"Ketika orang tua mengucapkan kata-kata yang tepat, hal itu memiliki kekuatan membuat anak merasa aman," ujarnya.

Sebaliknya, ucapan yang meremehkan atau menyakitkan dari orang tua akan meninggalkan luka batin yang sangat dalam. Hal ini terjadi karena anak memandang orang tua sebagai sosok yang semestinya paling memahami diri mereka.

Psikolog klinis Dr. Holly Schiff, Psy.D, menambahkan bahwa banyak orang tua mengalami krisis identitas saat anak mulai beranjak dewasa.

"Selama ini peran orang tua sangat melekat sebagai pengasuh dan sosok yang memegang kendali. Padahal anak yang sudah dewasa tetap menginginkan kedekatan emosional dengan orang tua," imbuhnya.

Para pakar sepakat bahwa tindakan terbaik untuk menjaga keharmonisan tersebut adalah keberanian orang tua untuk tidak malu mengakui kesalahan. Kalimat yang dianjurkan untuk diucapkan adalah: 'Maaf atas kesalahan yang pernah Bunda lakukan'.

Menurut psikolog Dr. Anna Plotkina, Psy.D., pengakuan yang tulus berfungsi sebagai bentuk validasi yang sangat berharga bagi anak.

Plotkina menjelaskan bahwa validasi merupakan salah satu alat paling kuat untuk membangun hubungan dan proses penyembuhan luka batin.

Meski demikian, Dr. Schiff mengakui ucapan maaf ini sering kali sulit dilontarkan oleh orang tua. Faktor rasa malu, ketakutan dianggap keliru, serta kekhawatiran akan runtuhnya otoritas sebagai orang tua menjadi hambatan utama.

Psikolog Dr. Michele Goldman, Ph.D., menyarankan orang tua untuk segera meminta maaf kepada anak yang telah dewasa dalam situasi tertentu. Situasi tersebut meliputi momen ketika orang tua tidak sengaja menyakiti anak, atau saat hubungan dinilai penting untuk diperbaiki.

Selain itu, permintaan maaf sebaiknya disampaikan ketika orang tua telah memahami kesalahan mereka dan siap mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Namun, cara penyampaian kalimat maaf ini juga harus tepat agar tidak kehilangan maknanya.

"Biarkan permintaan maaf itu berdiri sendiri. Saya tidak menyarankan mengucapkannya jika hanya bertujuan untuk mengakhiri pembicaraan," pesan Goldman.

Goldman mengingatkan agar kalimat maaf tidak dijadikan alat manipulasi untuk memunculkan rasa bersalah pada anak, karena hal itu justru memperlebar jarak emosional.

Permintaan maaf yang tulus mencerminkan kedewasaan emosional sekaligus membantu memulihkan keraguan diri pada anak akibat dinamika hubungan yang kurang sehat.

Menurut Guarnotta, banyak anak yang membawa beban mental seolah-olah kesalahan orang tua adalah kesalahan mereka sendiri.

"Mendengar orang tua mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut dapat meringankan beban anak," ujar Guarnotta.

Proses ini memberikan kesempatan bagi anak untuk merasa didengar dan divalidasi, yang pada akhirnya dapat memutus pola komunikasi buruk di masa lalu.

Selain meminta maaf, terdapat lima langkah lain yang disarankan oleh para psikolog untuk menyembuhkan keretakan hubungan keluarga.

1. Melakukan Introspeksi Diri

Goldman menekankan pentingnya orang tua untuk terus belajar mengelola emosi dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Langkah ini menunjukkan keseriusan orang tua untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

2. Memahami Perspektif Anak

Orang tua disarankan untuk lebih banyak mendengarkan secara aktif saat anak dewasa mulai terbuka. Ajukan pertanyaan lanjutan yang suportif alih-alih langsung menghakimi atau mengoreksi cerita mereka.

3. Tidak Terburu-buru Menyelesaikan Masalah

Saat anak dewasa menghadapi kendali hidup, peran orang tua telah berubah dari pengambil keputusan menjadi pendukung emosional.

"Daripada langsung memberi tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah, ajukan pertanyaan terbuka agar orang tua memahami bagaimana menurut mereka masalah tersebut sebaiknya dihadapi," kata Guarnotta.

4. Menghormati Batasan Anak

Ketika anak yang sudah dewasa menyatakan penolakan atau berkata 'tidak', orang tua sebaiknya tidak merasa tersinggung. Sikap menghormati batasan ini akan membuat anak merasa dihargai dan lebih terbuka untuk berbagi kisah.

5. Mengapresiasi Karakter Anak secara Utuh

Orang tua diimbau untuk mengenal pribadi anak yang telah berkembang, termasuk sifat baik dan selera humor mereka.

"Hargailah sifat-biasa baik mereka, selera humornya, dan cara unik mereka memandang dunia," pesan Guarnotta.

Ungkapan apresiasi ini sebaiknya disampaikan secara langsung agar anak mengetahui bahwa keberadaan mereka sangat disyukuri oleh orang tua.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author