Pakar Parenting Bagikan Kalimat Positif agar Anak Disiplin Tanpa Paksaan
Mengingatkan anak untuk menjalani rutinitas harian kerap memicu adu pendapat akibat sulitnya membangun kerja sama di rumah. Banyak orang tua terpaksa mengulang instruksi yang sama secara terus-menerus, seperti untuk membersihkan gigi, mematikan televisi, hingga menyelesaikan tugas sekolah. Dilansir dari HaiBunda, seorang pakar parenting asal India, Parikshit Jobanputra, menyatakan bahwa metode penyampaian pesan dari orang tua sangat memengaruhi respons anak.
Menurut Parikshit Jobanputra, transformasi dalam cara berkomunikasi mampu menghadirkan perbedaan besar bagi kedisiplinan buah hati.
Anak cenderung lebih mudah mendengarkan dan patuh ketika mereka merasa dilibatkan dalam proses komunikasi tersebut. Oleh karena itu, Parikshit Jobanputra menyarankan agar orang tua menghindari instruksi langsung yang bersifat memerintah secara kaku.
Orang tua disarankan memakai gaya bahasa positif demi meningkatkan motivasi anak dalam mengikuti arahan yang diberikan. Merujuk laporan The Times of India, terdapat beberapa rekomendasi ungkapan positif yang dapat membantu anak belajar disiplin tanpa paksaan.
Saat meminta anak membersihkan diri, kalimat perintah langsung seperti sikat gigi sekarang bisa diganti dengan ajakan yang lebih berorientasi pada tugas tertentu. "Saatnya membersihkan semua kuman di gigimu" ujar Parikshit Jobanputra. Penyampaian instruksi dengan format tersebut cenderung lebih mudah diterima karena anak merasa sedang diajak melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Pendekatan ini dapat meringankan beban rutinitas harian sekaligus mengurangi risiko penolakan dari anak sehingga orang tua tidak perlu mengulang kalimat.
Momen menghentikan aktivitas menonton televisi juga sering kali memicu hambatan tersendiri karena anak masih asyik dengan kegiatannya. "Yuk, kita bersenang-senang bersama dan bermain sesuatu yang seru" kata Parikshit Jobanputra. Ungkapan tersebut mempermudah anak untuk mengalihkan fokus mereka secara bertahap tanpa merasa kesenangannya dirampas secara mendadak.
Mengelola Waktu Belajar dan Istirahat
Tugas sekolah sering kali dianggap sebagai beban yang memicu rasa malas apabila anak langsung diperintah secara sepihak.
"Waktunya melatih otak. Mari kita kerjakan PR" tutur Parikshit Jobanputra. Melalui pilihan kata tersebut, pekerjaan rumah akan terkesan sebagai sebuah tantangan yang bermanfaat ketimbang sebuah kewajiban yang menjemukan.
Hal yang sama berlaku ketika orang tua harus menyudahi waktu bermain anak untuk beralih ke waktu istirahat. "Mari kita istirahatkan tubuh agar bisa bermain lebih banyak lagi besok" ucap Parikshit Jobanputra.
Pernyataan ini memberikan pemahaman logis kepada anak bahwa aktivitas bermain memiliki batasan waktu tertentu yang wajib dipatuhi.
Merapikan Mainan, Waktu Tidur, dan Gadget
Keinginan anak untuk mempertahankan kesenangannya juga kerap memicu penolakan saat diminta merapikan barang-barang mereka.
"Yuk, kita kembalikan mainan ke tempatnya agar bisa dimainkan lagi nanti" ujar Parikshit Jobanputra. Ajakan yang lebih halus ini membantu anak memahami bahwa barang-barang tersebut tidak akan hilang dan bisa digunakan kembali di lain waktu. Untuk rutinitas istirahat malam, perintah tidur dapat dikemas menjadi ajakan memasuki fase istirahat yang menenangkan.
"Saatnya kita rileks dan masuk ke dalam mimpi yang indah" kata Parikshit Jobanputra.
Pola komunikasi ini membuat anak lebih mudah menerima jadwal tidur sebagai sebuah fase yang nyaman dan dinantikan. Terakhir, kendala yang sering dihadapi orang tua adalah kesulitan memisahkan anak dari gawai atau gadget mereka.
"Mari kita kembali ke aktivitas, bermain bersama, dan membuat kenangan indah" tutur Parikshit Jobanputra. Metode ini efektif mengalihkan perhatian anak menuju aktivitas fisik bersama orang tua tanpa memicu rasa tertekan pada anak.