Menelusuri Jejak Jukung Pelasan Bali yang Terancam Punah

Share

Bali selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia dengan pantai-pantai indah dan deretan resor mewah. Namun di balik wajah modern pulau ini, ada warisan maritim yang perlahan menghilang dari pesisirnya.

Perahu tradisional, jukung pelasan, yang dulu menjadi pemandangan khas di pesisir Bali kini tinggal segelintir. Penelitian terbaru yang dilakukan Sarah Ward dan dipublikasikan dalam International Journal of Nautical Archaeology menemukan hanya enam jukung pelasan berbahan kayu yang masih utuh di pantai-pantai yang disurvei.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan drastis dibanding kondisi sekitar lima dekade lalu. Sebelum industri pariwisata berkembang pesat, kawasan Benoa, Nusa Dua, hingga Sanur dipenuhi perkampungan nelayan yang hidup berdampingan dengan laut.

Warga setempat secara turun-temurun membuat sekaligus menggunakan jukung pelasan, yakni perahu layar bercadik ganda dari kayu yang dihiasi ukiran gajah mina di bagian haluan.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, gajah mina merupakan makhluk mitologi berkepala gajah dan berbadan ikan. Simbol ini dipercaya membawa perlindungan bagi awak kapal sekaligus melambangkan keharmonisan antara daratan dan lautan.

Jukung bukan sekadar alat mencari ikan. Perahu tersebut menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir karena mencerminkan keterampilan membuat kapal, pengetahuan melaut, identitas komunitas, hingga nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pariwisata Mengubah Wajah Pesisir Bali

Perubahan mulai terasa pada dekade 1970-an hingga 1980-an ketika sektor pariwisata Bali berkembang pesat. Kawasan pantai yang sebelumnya dihuni desa nelayan perlahan berubah menjadi hotel dan resor megah.

Banyak nelayan kemudian beralih profesi ke sektor wisata karena dianggap menawarkan penghasilan yang lebih stabil dibanding melaut. Dampaknya, aktivitas pembuatan perahu tradisional pun terhenti.

Seorang pembuat perahu tradisional di Sanur yang diwawancarai Ward mengaku hampir tidak ada lagi permintaan membuat jukung kayu.

Menurutnya, semakin sedikit warga yang menggantungkan hidup dari menangkap ikan. Bukan hanya itu, bahan baku kayu dan bambu juga semakin sulit diperoleh di pasaran.

Pohon-pohon besar yang dulu digunakan sebagai badan kapal telah lama ditebang, sementara bambu berukuran besar untuk cadik kini semakin langka dan harganya sangat mahal. Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan beralih menggunakan perahu fiberglass.

Bahkan ada yang kini memanfaatkan replika jukung untuk membawa wisatawan menikmati matahari terbit di laut. Ironisnya, ketika industri wisata terus berkembang, warisan maritim tradisional justru semakin tersisih.

Pada kuartal pertama 2026, pendapatan pariwisata Indonesia tercatat tumbuh 6,3 persen. Sementara pada 2025, Bali menyumbang sekitar 55 persen pendapatan pariwisata nasional dan sektor wisata menjadi penopang sekitar 60 persen produk domestik bruto pulau tersebut.

Tak Hanya Hilang dari Pantai

Banyak jukung kayu yang kini tidak lagi berada di Bali. Sebagian digantikan perahu modern berbahan fiberglass, sementara sebagian lainnya dijual kepada kolektor asing di luar negeri.

Saat ini, beberapa jukung tradisional dapat ditemukan di museum di Australia, Amerika Serikat, hingga China. Meski kapal-kapal itu tetap terawat, keberadaannya terlepas dari masyarakat yang selama ratusan tahun memberi makna terhadap warisan tersebut.

Menurut Ward, pelestarian warisan maritim bukan hanya soal menyelamatkan fisik perahunya semata.

Pengetahuan membuat jukung, memilih kayu, merakit cadik, hingga membaca kondisi laut juga harus didokumentasikan agar tidak ikut hilang bersama para pembuat kapal dan nelayan senior.

Karena itu, Ward bersama arkeolog Widya Nayati dari Universitas Gadjah Mada kini aktif mendokumentasikan teknik, istilah, hingga cerita masyarakat pesisir Bali terkait tradisi maritim tersebut.

Warisan maritim Bali pada akhirnya bukan hanya soal benda bersejarah, melainkan tentang pengetahuan hidup yang menghubungkan manusia dengan laut selama berabad-abad. Jika tak ada upaya serius menjaga tradisi ini, generasi mendatang hanya akan mengenal jukung Bali dari balik etalase museum sementara pantai yang dulu menjadi rumahnya telah kehilangan salah satu ikon paling berharga.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author