Warga Temukan Jasad Mutilasi Dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
Aroma busuk yang menyengat dari sebuah karung beras di lahan buntu kawasan Tanah Merah Depkes, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, akhirnya terungkap sebagai jasad manusia tanpa kaki pada Selasa, 4 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WIB.
Lokasi penemuan berada di jalan setapak buntu menuju kediaman saksi pertama, Herni Septiani, yang terletak sekitar 400 meter dari jalan utama. Karung berisi jasad tersebut sudah berada di lokasi sejak 24 Juli 2026, tetapi dibiarkan warga karena dikira berisi sampah liar yang membusuk.
Saksi pertama, Herni Septiani, menceritakan awal mula penemuan pembungkusan misterius tersebut saat dirinya melintas selepas mengantar anak sekolah.
"Itu saya pulang antar anak sekolah, tapi untuk pas perginya saya enggak ngeh sudah ada karung itu apa belum di posisi pinggir jalan itu," kata Herni.
Ia langsung mengabadikan temuan awal tersebut dan membagikannya ke grup percakapan keluarga.
"Begitu saya lihat, saya langsung foto kirim ke grup keluarga, saya bilang ada yang buang sampah nih sembarangan di pinggir jalan," tutur Herni.
Rasa curiga tidak timbul lantaran area sekitarnya kerap dijadikan tempat pembuangan sampah sembarangan. Kendati bau pembusukan kian menyengat hingga muncul belatung, warga tetap menduga isinya sekadar bangkai hewan atau sampah makanan.
"Pokoknya dari awal itu memang sudah mikirnya sampah. Nggak pernah diutak-atik, nggak pernah diusik. Sudah mikir itu sampah, terus bau busuk, ada belatung, sudah," ujar Herni.
Identitas jasad baru disadari saat adik Herni, Rizkywan, mencoba membakar karung itu untuk menghilangkan bau. Pembakaran membuat pembungkus meleleh dan menampakkan bagian tubuh manusia, yang seketika dihentikan lalu dilaporkan ke pengurus lingkungan dan polisi.
"Enggak tahu (kondisi awal mayat). Orang langsung penuh orang juga saya mau lihat enggak bisa. Jadi begitu adik saya bilang ternyata mayat, sambil saya agak mau nyamperin, saya langsung nelfon pengurus," kata Herni.
Kawasan lahan kosong tersebut sejatinya rutin dijadikan tempat beraktivitas warga seperti berolahraga dan bermain layangan. Namun, jalan buntu titik penemuan jarang dilalui serta minim penerangan jalan umum akibat sengketa lahan.
Saksi lainnya yang berada di lokasi, Herni Septiani, menegaskan situasi pemanfaatan lahan terbuka tersebut oleh masyarakat sekitar.
"Kalau buat digunain, bebas ya orang dari mana-mana. Untuk saat ini aja dibuat main layangan, terus ada yang main bola, ada yang belajar motor, ada yang kalau pagi itu pada jalan sehat gitu lah," jelas Herni.
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh pengurus lingkungan setempat yang memaparkan kondisi keramaian di area sekitar lokasi.
"Kebanyakan biasanya memang Sabtu Minggu itu rame. Karena ini lahan kosong itu banyak dipergunakan oleh masyarakat untuk lari pagi, olahraga, terus ada juga yang jualan-jualan. Kalau sore dipakai main layangan," kata Ketua RW 17 Kelurahan Pancoran Mas, Abdullah Rifa'i.
Rifa'i menjelaskan bahwa jalan setapak tempat karung diletakkan bukanlah tempat pembuangan sampah yang biasa digunakan orang luar.
"Ini mentok, sudah enggak ada lagi, jalan buntu," ucap Rifa'i.
Ia juga menambahkan kendala fasilitas fasilitas penerangan di area tanah bersengketa tersebut.
"Kenapa enggak ada penerangan? Karena ini masih tanah Depkes, masih sengketa. Jadi kita enggak bisa ajukan, ini sudah beberapa kali kami ajukan PJU penerangan dari Pemerintah Kota Depok, tapi tidak di-ACC karena tanahnya masih sengketa," tutur Rifa'i.
Titik penempatan karung yang terisolasi tersebut dinilai sangat janggal oleh pengurus RW setempat.
"Jadi memang aksesnya ke sini itu untuk rumah ini aja sebenarnya," kata Rifa'i.
Kejanggalan lokasi pembuangan pembungkus jasad tersebut kembali ditegaskan oleh Rifa'i.
"Bukan (tempat lazim untuk buang sampah). Ini agak aneh soalnya, biasanya orang-orang luar pun kalau buang sampah, itu di pinggiran jalan utama," ungkap Rifa'i.
Menurut pengamatan Rifa'i, jasad yang ditemukan sudah dalam kondisi rusak berat dan membusuk sehingga menyulitkan proses identifikasi awal.
"Jadi sudah dimutilasi, sudah dibengkak. Keterangan dari inafis itu sidik jarinya pun agak sulit karena udah enggak ada darahnya. Dan mukanya pun sudah sulit teridentifikasi. Kecuali dari gigi ya," kata Rifa'i.
Rifa'i juga memperkirakan bahwa korban bukan merupakan warga di lingkungan permukimannya.
"Soalnya gini, ini agak aneh soalnya, biasanya orang-orang luar pun kalau buang sampah itu di pinggiran jalan utama. Jadi (jalan setapak ini) memang aksesnya hanya ke sini, untuk rumah ini aja," tutur Rifa'i.
Sementara itu, pihak kepolisian langsung menerjunkan tim ke lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan dan penyisiran.
"Iya, bagian bawah tubuh korban tidak ada. Dapat kami sampaikan, sebagian tubuh dari korban itu tidak ditemukan di TKP. Namun kami masih melakukan penyelidikan," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Gede Made Oka Utama.
Mengenai jenis kelamin dan profil pasti korban, kepolisian masih menunggu hasil autopsi resmi dari tim medis forensik.
"Untuk jenis kelamin korban nanti kami akan sampaikan setelah mendapatkan kepastian. Informasi awal diduga laki-laki," kata Oka.
Oka menambahkan kronologi penerimaan laporan warga yang masuk ke jajarannya pada sore hari tersebut.
"Pada hari ini, tanggal 4 Agustus, kami mendapatkan laporan dari masyarakat adanya temuan mayat di wilayah Pancoran Mas. Informasi yang kami dapatkan sekitar pukul 16.00," ujar Oka.
Ia mengonfirmasi mengenai kondisi karung yang sempat terbakar saat awal ditemukan oleh saksi di tempat kejadian.
"Pada saat ditemukan, saksi awalnya berpikiran itu adalah sampah, kemudian dibakar. Pada saat proses pembakaran tersebut, melihat potongan tubuh dari korban," tutur Oka.
Berdasarkan keterangan Polda Metro Jaya, korban ditemukan tanpa pakaian dengan kedua tangan terikat kain putih, luka terbuka di leher, serta kehilangan kedua kaki dari pangkal paha.
"Jenazah dimasukkan ke dalam karung beras yang dibungkus plastik berwarna hitam," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto.
Jasad korban saat ini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk menjalani proses autopsi dan identifikasi lanjutan oleh tim forensik.