Israel Menolak Tarik Pasukan dari Zona Keamanan Lebanon

Share

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan pasukannya tidak akan menarik diri dari zona keamanan di wilayah Lebanon selatan, Suriah, dan Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan Katz saat melakukan kunjungan ke wilayah Lebanon selatan pada Rabu (12/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Kunjungan Katz berlangsung hampir dua bulan setelah adanya kesepakatan kerangka kerja antara Israel dan Lebanon yang disponsori Amerika Serikat. Kesepakatan itu mencakup perlucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel, serta pengerahan tentara Lebanon di kawasan selatan.

Rencana negosiasi lanjutan antara kedua negara dijadwalkan berlangsung di Roma, Italia, pada awal September mendatang di bawah fasilitasi Amerika Serikat. Meski demikian, pejabat tinggi Israel berulang kali menyatakan tetap mempertahankan kehadiran militer di zona seluas 10 kilometer dari batas negara tersebut.

Katz menegaskan posisi pemerintah terkait keberadaan pangkalan dan personel militer di kawasan perbatasan tersebut.

"Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh perdana menteri dan saya, kami tidak akan menarik diri dari zona keamanan ini," kata Katz, Menhan Israel.

Sikap keras ini diambil untuk memastikan stabilitas keamanan serta perlindungan penuh bagi warga pemukiman Israel di wilayah utara dari berbagai ancaman luar.

"Militer Israel berada di sini untuk melindungi komunitas di utara dan pasukannya sendiri. Kami akan membersihkan area ini dan menjamin keamanan penduduk di utara. Kami sama sekali tidak akan mundur dari zona keamanan: tidak di Lebanon, tidak di Suriah, dan tidak di Gaza," kata Katz, Menhan Israel.

Selain penyiapan benteng pertahanan, operasi pembongkaran sarana militer milik kelompok lawan juga terus digencarkan oleh pasukan darat di lapangan.

"menghancurkan infrastruktur bawah tanah" kata Katz, Menhan Israel.

Pengrusakan fisik sarana pendukung pemukiman juga dilakukan secara menyeluruh di area pengetatan keamanan tersebut.

"menghancurkan semua rumah" kata Katz, Menhan Israel.

Ketegangan militer di Lebanon selatan tereskalasi sejak awal Maret lalu setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Serangan tersebut merupakan aksi balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam operasi militer gabungan AS dan Israel, yang kemudian direspons Israel melalui invasi darat serta serangan udara masif.

Selain di Lebanon, Israel melancarkan pemboman berkala di Suriah untuk membentuk kawasan bebas militer di bagian selatan negara tersebut pasca-penggulingan Presiden Bashar al-Assad. Sementara di Gaza, pasukan Israel menguasai lebih dari 60 persen wilayah konflik.

Penegasan tak akan mundur juga disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat menolak proposal perdamaian Gaza usulan AS yang sempat disetujui Hamas pada pekan sebelumnya.

"tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan dan warga negara kami" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Israel Lebanon Menhan Israel
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author