Israel Buka Opsi Militer untuk Gagalkan Senjata Nuklir Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan penggunaan tindakan militer di tengah proses negosiasi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Dilansir dari Detikcom, langkah tersebut diambil guna mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Ancaman tindakan militer ini disampaikan Netanyahu merespons pernyataan pejabat militer Iran mengenai program nuklir Teheran. Ia menegaskan posisi pemerintahannya untuk membendung ambisi nuklir Iran tersebut.
"Hari ini kita mendengar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran bermaksud untuk terus mengembangkan senjata nuklir," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Netanyahu kembali menegaskan komitmennya untuk menghalangi Teheran dalam memproduksi senjata pemusnah massal tersebut. Ia juga menyinggung hubungan erat antara negaranya dengan Washington.
"Sebagai perdana menteri Israel, saya bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir," tambah Benjamin Netanyahu.
Isyarat militer dari Israel muncul saat upaya mediasi diplomatik sedang berlangsung. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menyampaikan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah memasuki tahap lanjut dengan saling bertukar draf proposal.
Proses diplomasi ini melibat sejumlah negara penengah sejak pertengahan tahun. Qatar dan Pakistan bergabung dalam tim mediasi yang memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni lalu, meskipun pembicaraan sempat terhenti akibat perdebatan mengenai keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Eskalasi ketegangan ini terjadi menyusul serangkaian aksi militer di kawasan. Setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran, AS kembali melancarkan serangan sepanjang 8 hingga 24 Juli yang memicu aksi balasan Teheran terhadap fasilitas militer AS di beberapa negara Arab.