Israel dan Iran Saling Serang Rudal Usai Gencatan Senjata

Share

Konflik di Timur Tengah kembali membara setelah militer Israel dan Iran terlibat aksi saling serang menggunakan rudal usai pemberlakuan gencatan senjata antara kedua belah pihak.

Aksi saling gempur yang dilansir dari Detikcom ini terjadi setelah sirene serangan udara berbunyi di Israel pada Minggu (7/6/2026) akibat rentetan 11 rudal Iran yang datang untuk pertama kali sejak gencatan senjata April.

Pihak militer Israel mengonfirmasi telah menembak jatuh seluruh rudal kiriman Iran tersebut tanpa adanya korban jiwa, yang kemudian dibalas dengan serangan udara ke wilayah barat dan tengah Iran, termasuk menyasar pabrik petrokimia di Mahshahr pada Senin (8/6/2026).

Ketegangan ini mengabaikan upaya komunikasi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya mencoba menghubungi Perdana Menteri Israel untuk meredakan situasi.

"I will call Bibi now and tell him not to retaliate," kata Trump seperti dikutip oleh jurnalis Axios, Barak Ravid dalam wawancara telepon.

Gedung Putih dan Trump sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai pembicaraan langsung dengan Netanyahu tersebut.

"Israel has taken its strike and Iran has taken its strike. We don't need another strike," kata Trump seperti yang dilaporkan.

Respons internasional juga datang dari Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, yang mendesak kedua negara untuk menahan diri dan mengutamakan jalur diplomasi.

"Kembalinya konflik antara Iran dan Israel bukanlah kepentingan siapa pun," tulis Cooper di media sosial X.

Di pihak lain, ketegangan ini dipicu oleh pernyataan Garda Revolusi Islam Iran yang menegaskan bahwa serangan mereka merupakan respons terhadap agresi Israel di pinggiran Beirut, Lebanon.

"Operasi tersebut dilakukan sebagai tanggapan terhadap serangan rudal yang launched oleh rezim Zionis… terhadap beberapa situs radar di tiga tempat berbeda di Iran," kata Garda Revolusi Islam Iran dalam sebuah pernyataan.

Setelah eskalasi terbaru ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pertempuran di lini depan saat ini sudah terkendali.

"Pada saat ini, pertempuran di baris depan tersebut telah terkendali setelah kita menyerang rezim teror di Teheran, mereka berhenti menyerang kita," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan.

Meski mengumumkan penghentian serangan, Netanyahu tetap mengeluarkan ancaman keras jika Iran kembali melakukan tindakan agresif.

"Jika Iran melakukan kesalahan dengan kembali meluncurkan serangan terhadap kita, kita akan membalas dengan kekuatan penuh," ujarnya.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran juga menghentikan serangan namun menegaskan posisi mereka yang tidak akan mundur dari diplomasi maupun pertahanan.

"Diplomasi dan pertahanan adalah dua sayap kekuatan nasional. Kami tidak meninggalkan medan perang maupun meja perundingan," kata Pezeshkian.

Pezeshkian menambahkan bahwa negaranya siap menghadapi segala bentuk ancaman yang mengarah kepada mereka.

"Teheran tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman apa pun," imbuhnya.

Langkah penghentian operasi militer ini juga dikonfirmasi oleh Komando pimpinan militer Iran, Khatam al-Anbiya, yang mengawasi situasi di kawasan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author