Israel Gempur Lebanon Selatan Usai Perintahkan Evakuasi Warga
Wilayah Lebanon selatan digempur oleh serangan udara militer Israel pada Sabtu (13/6/2026) setelah adanya peringatan evakuasi massal bagi penduduk setempat di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh. Dilansir dari Detikcom, kantor berita National News Agency (NNA) melaporkan bahwa operasi udara tersebut menyasar beberapa daerah termasuk desa Rihan dan Sujud yang berdekatan dengan kota Nabatieh.
Sebelum melancarkan bombardir, tentara Israel telah menginstruksikan warga di 20 kota dan desa untuk segera mengosongkan kediaman mereka. Perintah pengungsian ini tetap dikeluarkan meskipun kedua belah pihak secara formal terikat dalam kesepakatan gencatan senjata atas konflik bersenjata mereka.
Evakuasi massal ini diarahkan langsung oleh pihak militer Israel melalui instruksi digital. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee menyampaikan pesan tersebut ke publik.
"Demi keselamatan Anda, Anda harus segera mengosongkan rumah Anda dan pindah ke utara Sungai Zahrani," kata juru bicara militer Israel, Avichay Adraee.
Pihak militer menuduh kelompok milisi Hizbullah yang disokong oleh Iran telah melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang ada. Penempatan infrastruktur militer di area sipil diklaim menjadi alasan utama dilakukannya serangan udara tersebut.
"Siapa pun yang berada di sekitar instalasi atau sarana perang Hizbullah membahayakan nyawa mereka," tambah Avichay Adraee.
Konflik terbuka antara Israel dan Hizbullah ini telah berlangsung sejak awal Maret 2026. Ketegangan bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai aksi balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Data dari otoritas setempat menunjukkan bahwa kampanye udara serta invasi darat yang agresif dari Israel telah merenggut lebih dari 3.700 nyawa di Lebanon. Upaya diplomatik termasuk gencatan senjata pada April lalu maupun negosiasi bersyarat di Washington pada bulan ini terus mengalami kegagalan dalam menghentikan pertempuran karena Hizbullah menolak klausul yang mengharuskan mereka mundur tanpa ada kewajiban serupa dari pasukan Israel.