Israel Bom Ibu Kota Lebanon di Tengah Negosiasi Damai AS-Iran

Share

Militer Israel melancarkan serangan bom ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Ibu Kota Lebanon, pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat dengan dalih membalas serangan pesawat tanpa awak atau drone kelompok Hizbullah.

Aksi pengeboman tersebut memicu peningkatan ketegangan regional di saat Amerika Serikat dan Iran, selaku pendukung milisi Hizbullah, tengah mendekati kesepakatan perdamaian sementara.

Satu warga dilaporkan tewas dan empat orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara tersebut, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz yang mengutip Kantor Berita Nasional Lebanon.

Pihak Angkatan Bersenjata Israel mengklaim serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan pusat komando Hizbullah, setelah sebelumnya menuduh milisi Lebanon tersebut mengirimkan tiga unit drone ke wilayah Israel.

Eskalasi militer ini terjadi di tengah bergulirnya negosiasi antara pihak Washington dan Teheran untuk menyepakati penghentian perang yang dipimpin AS serta Israel terhadap Iran sejak lebih dari tiga bulan lalu.

Tuntutan gencatan senjata permanen yang diajukan Iran turut mencakup wilayah Lebanon, namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan menerima syarat itu hingga milisi Hizbullah dilucuti dan berhenti menyerang Israel.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan indikasi bahwa perjanjian damai sementara untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz berpotensi ditandatangani secepatnya pada hari Minggu, meskipun pihak Iran masih meragukan klaim tersebut.

Seiring dengan operasi militer gabungan terhadap Iran, pasukan darat dan tank Israel telah menginvasi Lebanon untuk menjauhkan Hizbullah dari perbatasan, dan kini menduduki zona sedalam 10 kilometer yang memaksa ratusan ribu warga sipil mengungsi.

Anggota kabinet keamanan Netanyahu, Miri Regev, menegaskan posisi militer Israel yang tidak akan menghentikan operasi di wilayah tersebut melalui siaran radio Galey Israel.

"IDF tidak bermaksud untuk mundur," kata Miri Regev, anggota kabinet keamanan Netanyahu.

Regev menambahkan bahwa pihak Israel menolak adanya keterkaitan diplomasi antara dua wilayah konflik yang sedang berjalan tersebut.

"Kami tidak mengizinkan keterkaitan antara medan operasi," kata Miri Regev, anggota kabinet keamanan Netanyahu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author