Iran dan Oman Buka Negosiasi Pengelolaan Selat Hormuz
Pembahasan mengenai tata kelola lalu lintas di Selat Hormuz antara Iran dan Oman dilaporkan mengalami kemajuan positif, seperti dilansir dari Detikcom. Pembicaraan tersebut kini telah memasuki tahap yang lebih krusial.
Proses negosiasi intensif dalam beberapa hari terakhir berfokus pada potensi pembukaan rute pelayaran baru. Tanggung jawab pengawasan rute tersebut rencananya akan dibagi bersama antara Iran dan Oman.
Meskipun dialog berjalan maju, Iran secara terbuka menyampaikan daftar tuntutan kepada Amerika Serikat. Pihak Iran menegaskan syarat-syarat tersebut wajib dipenuhi sebelum akses Selat Hormuz dipulihkan sepenuhnya.
Sejumlah poin yang diajukan Iran diketahui melampaui kerangka awal Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati bersama AS pada 17 Juni lalu.
Melalui media pemerintah IRIB, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menegaskan bahwa AS harus memperbaiki perilakunya.
Tuntutan pertama Iran meminta AS menghentikan segala bentuk ancaman dan penghinaan terhadap bangsa Iran. Syarat ini menjadi jaminan politik serta keamanan bagi Tehran.
Selanjutnya, Iran mendesak penghentian total operasi militer dan agresi AS terhadap wilayah Iran beserta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Poin ketiga meminta AS mencabut blokade laut serta menarik seluruh armada militer dari kawasan sekitar Iran. Kebijakan ini dinilai krusial bagi stabilitas wilayah.
Iran juga menuntut pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat dua kali konflik militer. Sikap ini menandai keterkaitan langsung antara ganti rugi dan pembukaan selat.
Tuntutan berikutnya mencakup pencabutan sanksi ekonomi serta pembebasan seluruh aset keuangan Iran yang dibekukan oleh pemerintah AS tanpa syarat.
Analis Timur Tengah BBC, Sebastian Usher, menilai langkah terbaru ini menunjukkan bahwa posisi tawar Iran semakin mengeras di lapangan.
"Ini adalah kondisi yang telah ada sebagai bagian dari kerangka perjanjian MoU, tapi waktu dan mekanisme pelaksanaannya tampak sangat berbeda," ujarnya.
Usher mengamati bahwa penguasaan atas Selat Hormuz memberikan ruang penawaran yang relatif lebih kuat bagi pihak Iran saat ini.
Sementara itu, Trita Parsi dari Quincy Institute menilai deretan tuntutan tinggi tersebut merupakan bagian dari taktik untuk mengulur waktu perundingan.
"Apa yang telah dikemukakan di tingkat publik belum tentu tercermin di meja perundingan," katanya.
Parsi menambahkan bahwa kelompok garis keras di Tehran berupaya menghindari kesalahan negosiasi yang terburu-buru seperti pada kesepakatan Juni lalu.
"Bisa jadi mereka hanya mencoba memperpanjang proses ini," ujarnya.
Meskipun demikian, Parsi memperkirakan kesepakatan akhir terkait operasional Selat Hormuz tetap berpotensi tercapai dalam waktu dekat.