Iran Kuasai Selat Hormuz Usai Pangkalan Militer AS Diserang
Kemampuan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk mengalami penyusutan signifikan setelah rentetan serangan Iran memaksa Pentagon memindahkan sebagian aset tempurnya ke luar area strategis Selat Hormuz.
Perubahan peta kekuatan ini dinilai memberikan kendali de facto kepada Teheran atas jalur pelayaran vital perdagangan minyak dunia tersebut, menurut laporan The Wall Street Journal.
Analis Defense Priorities Rosemary Kelanic menyatakan bahwa perusahaan pelayaran komersial saat ini memilih menunggu jaminan keamanan langsung dari Teheran sebelum melintas, seiring melemahnya kehadiran armada Washington.
Selama konflik, Iran mendirikan Otoritas Selat Teluk Persia yang mewajibkan setiap kapal komersial mendaftar serta membayar asuransi khusus. Langkah Teheran tersebut sempat direspons Washington dengan ancaman sanksi bagi perusahaan yang mematuhinya.
Penguasaan jalur laut ini dipandang pemerintah Iran sebagai pencapaian strategis jangka panjang yang setara dengan keberhasilan program nuklir maupun rudal mereka.
Sejak mengambil alih bekas pangkalan Inggris di Bahrain pada 1971, Amerika Serikat sebenarnya telah menempatkan sekitar 30.000 personel militer yang tersebar di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Namun, setelah kesepakatan damai tercapai, Washington berencana mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran guna memulihkan arus lalu lintas komersial di Selat Hormuz.
Merespons situasi tersebut, negara-negara Teluk mulai mengkaji jalur alternatif ekspor energi melalui Laut Merah dan Teluk Oman, meski diakui tidak akan sepenuhnya menggantikan peran Selat Hormuz.