Iran Ejek Klaim Donald Trump Soal Kendali Selat Hormuz

Share

Ebrahim Azizi, Kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengejek pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana penguasaan Selat Hormuz pada Minggu (16/8/2026). Peringatan bernuansa sindiran tersebut diluncurkan Teheran menyusul klaim Trump yang berniat mendeklarasikan jalur pelayaran strategis itu sebagai wilayah AS usai perang. Ejekan Azizi merujuk pada laporan media AS terkait penggunaan truk katering oleh Trump saat berpindah dari Air Force One ke pesawat pemerintah yang lebih kecil di Ankara demi menghindari potensi serangan Iran.

Sementara itu, data komoditas Kpler menunjukkan sekitar 3.371 kapal telah melintasi jalur perairan tersebut dalam 166 hari sejak konflik AS-Israel dan Iran pecah, atau hanya setara 20 persen dari volume normal. Pernyataan Azizi disampaikan secara terbuka sebagai tanggapan langsung atas pidato Trump di Garden City, New York.

"Presiden AS seharusnya mengkhawatirkan keamanannya sendiri daripada gertakannya yang tak berujung mengenai Selat Hormuz; sebelum dia akhirnya bersembunyi di dalam truk makanan," kata Azizi, Kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran.

Sikap keras tersebut dilatarbelakangi oleh pidato Trump di New York yang menegaskan ambisinya atas wilayah perairan internasional tersebut. "Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim bahwa Washington memegang kendali penuh atas navigasi kapal di kawasan tersebut. "Tidak ada kapal yang bisa melintasi kecuali jika kita mengizinkannya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Klaim penguasaan tersebut kembali ditegaskan Trump dalam kesempatan yang sama di hadapan para pendukungnya. "Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang sedang dikalahkan dengan sangat parah, sebentar lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Trump kemudian menambahkan klaim dominasi militernya di jalur laut strategis dunia tersebut.

"Kami yang memegang kendali blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali kami menginginkannya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Namun, militer Iran membantah keras klaim blokade dan pengawasan penuh AS di Selat Hormuz tersebut. "Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran," kata Ibrahim Zolfaqari, Juru Bicar Komando Terpadu Militer Iran Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya. Laporan dari wartawan The Wall Street Journal Brian Schwartz mengutip pejabat senior Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump belum menggelar rapat resmi bersama penasihatnya dan sekadar berseloroh saat berpidato.

"Presiden Trump belum bertemu dengan para penasihatnya mengenai rencana untuk menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dan dia sedang bercanda dalam pidatonya hari ini di New York," kata Brian Schwartz, Reporter The Wall Street Journal.

Perundingan diplomasi yang dimediasi Pakistan sejak April lalu terhenti akibat ketidaksepakatan jaminan keamanan serta kebebasan navigasi, yang disusul aksi saling serang militer kedua negara pada pertengahan Juli.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author