Iran Desak AS Akui Kekalahan Strategis di Selat Hormuz

Share

Pemerintah Iran menyerukan kepada Amerika Serikat untuk mengakui kekalahan strategis dalam perebutan kendali di Selat Hormuz pada Sabtu (15/8/2026). Seperti dilansir dari Detikcom, ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan niatnya untuk mendeklarasikan wilayah perairan strategis tersebut sebagai wilayah AS usai perang.

Pernyataan balasan Teheran ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi. Ia menegaskan bahwa Washington telah gagal memaksakan kehendaknya di jalur pelayaran vital minyak dan gas dunia tersebut.

"Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya; sejauh ini, Anda telah mengalami kekalahan serius dan strategis," cetus Gharibabadi dalam pernyataan kepada AS via media sosial X pada Sabtu (15/8) pagi.

Selat Hormuz resmi ditutup oleh Teheran sebagai respons atas gelombang serangan gabungan AS dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari lalu. Jalur pelayaran strategis yang berbatasan dengan Iran dan Oman tersebut dipastikan akan terus diblokade jika Washington tidak mengubah sikapnya.

"Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran; selat ini hanya akan ditutup atau dibuka kembali atas perintah Iran," tegasnya.

Upaya diplomasi yang dilakukan berbagai pihak selama beberapa bulan terakhir guna membuka kembali akses pelayaran minyak global tersebut terus menemui jalan buntu.

"Dan selama Anda menolak untuk mengakui kenyataan soal kekalahan Anda dan terus terlena dalam delusi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade tersebut (di Selat Hormuz)," kata Wamenlu Iran tersebut dalam pernyataannya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memicu eskalasi baru saat berbicara dalam pidatonya di Akademi Kepolisian Nassau County, New York, pada Jumat (14/8). Trump mengeklaim Angkatan Laut AS telah memberlakukan blokade total dan berencana menguasai Selat Hormuz secara penuh.

"Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," tegas Trump saat berbicara dalam kunjungan ke Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York.

Orang nomor satu di AS itu menambahkan bahwa kontrol navigasi penuh akan berada di tangan militer AS tanpa memberikan celah bagi kapal asing.

"tidak ada kapal yang bisa melintasi kecuali jika kita mengizinkannya".

Menanggapi klaim dominasi laut yang dilontarkan oleh Trump, pihak Teheran memastikan tidak akan mundur atau terintimidasi oleh gertakan AS.

"Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui sebuah cuitan atau dengan kapal induk, ataupun dengan mengeluarkan perintah, atau dengan menyampaikan pidato kampanye pemilu," tegas Gharibabadi dalam pernyataannya.

Gharibabadi menekankan bahwa pertahanan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz tidak akan bergeser sedikit pun meskipun AS terus melakukan tekanan militer.

"Iran tidak terintimidasi oleh ancaman-ancaman dan tidak ciut nyalinya dalam menghadapi aksi unjuk kekuatan," ucap Gharibabadi dalam pernyataan terpisah via media sosial X pada Jumat (14/8) waktu setempat.

Konflik berkepanjangan sejak akhir Februari ini menempatkan Iran pada posisi bertahan untuk mengendalikan pelayaran lokal, sedangkan Washington terus menuntut jaminan kebebasan navigasi internasional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author