Iran Cari Tiga Pilot Jet Tempur Hilang Usai Serang Pangkalan AS
Militer Iran terus melakukan upaya pencarian terhadap tiga pilot Angkatan Udara yang dilaporkan hilang setelah melancarkan operasi penyerangan ke Pangkalan Udara Al Udeid milik Amerika Serikat di Qatar pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Pemerintah Iran menyebut otoritas Qatar hingga saat ini mengklaim belum memiliki informasi terkait keberadaan maupun status hukum ketiga personel militer tersebut, meski koordinasi tingkat tinggi terus diupayakan Teheran.
Penjelasan mengenai perkembangan pencarian para pilot tersebut disampaikan langsung oleh pihak militer Iran kepada media lokal Mehr News dan IRNA.
"Upaya tindak lanjut kami terus berjalan, tetapi pihak Qatar sejauh ini mengklaim tidak memiliki informasi dan belum memperjelas status tiga pilot kami yang berharga," kata Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia.
Teheran mendesak otoritas keamanan Qatar untuk meningkatkan skala pencarian dengan mengacu pada ketentuan serta konvensi internasional yang berlaku.
"Kami meminta Angkatan Bersenjata dan pemerintah Qatar untuk bertindak dengan tanggung jawab yang lebih besar serta, dalam kerangka komitmen mereka di bawah konvensi internasional dan hukum humaniter internasional, melakukan upaya yang lebih serius untuk memperjelas status tiga pilot Angkatan Udara Republik Islam Iran yang tersisa," jelas Akraminia.
Pernyataan ini dikeluarkan setelah otoritas Iran menyelesaikan proses identifikasi DNA terhadap jenazah Brigadir Jenderal Majid Kazemi, pilot pesawat pembom Su-24 yang gugur dalam serangan 2 Maret di Pangkalan Udara Al Udeid. Jenazah Kazemi telah dipulangkan ke tanah air dan dimakamkan di kota Shiraz.
Misi udara tersebut melibatkan dua pesawat pembom Su-24 yang diterbangkan oleh empat orang awak pilot. Pesawat terbang pada ketinggian sangat rendah, yakni sekitar 30 hingga 40 meter di atas permukaan air Teluk Persia, demi menghindari deteksi radar musuh.
"Mengingat kehadiran luas sistem pertahanan musuh di kawasan, melakukan operasi semacam itu pada dasarnya sangat sulit. Namun perencanaan ini dilakukan dengan berani, dan pelaksanaan operasi dipercayakan kepada empat pilot pemberani angkatan udara Artesh, di mana salah satu dari mereka adalah martir Brigadir Jenderal Pilot Majid Kazemi," kata Akraminia.
Pihak militer Iran menegaskan bahwa jalur penerbangan di atas perairan Teluk Persia memberikan tantangan teknis tersendiri bagi armada udara mereka.
"Mendeteksi pesawat di jalur darat lebih sulit karena di darat, medan memiliki hambatan dan naik-turun yang memungkinkan pesawat bersembunyi di antaranya untuk mendekati target. Namun di jalur perairan, mendeteksi pesawat jauh lebih mudah, terutama karena jet tempur Su-24 adalah pesawat yang lebih besar dibandingkan jet tempur lainnya, sebuah fitur yang dapat dengan mudah membuat pesawat terdeteksi oleh musuh," tambah Akraminia.
Meskipun berhasil menghantam target di Pangkalan Udara Al Udeid dan menimbulkan kerusakan pada sejumlah aset militer AS, armada jet tempur Iran mendapat serangan dari pesawat musuh saat perjalanan pulang.
"Meskipun ada semua pertimbangan dan kesulitan ini, perencanaan operasi dilakukan dengan hati-hati. Para pilot pemberani kami dengan terampil mendekati target dan menghantamnya. Namun, sayangnya, dalam perjalanan pulang, pesawat musuh menyerang mereka," ujar Akraminia.
Investigasi gabungan serta penelusuran diplomatik masih terus difokuskan untuk memastikan nasib tiga awak Su-24 yang belum diketahui keberadaannya.