Militer Iran Bantah Klaim AS Terkait Kerusakan Rudal dan Drone
Militer Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai hancurnya sebagian besar persenjataan Teheran, Jumat (14/8/2026). Seperti dilansir dari Detikcom, Teheran menegaskan mayoritas armada rudal dan drone milik mereka dalam kondisi siap tempur meski sempat diserang AS dan Israel.
Klarifikasi ini disampaikan langsung oleh pihak militer Iran guna membendung spekulasi terkait penurunan kapasitas pertahanan udara mereka. Pemerintah Iran memastikan operasional pertahanan udara tetap berjalan optimal tanpa kendala berarti.
"Lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone Iran masih utuh dan siap," ujar Wakil Komandan Militer Iran untuk Urusan Eksekutif, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh.
Penegasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa rentetan operasi militer dari Washington dan Tel Aviv dalam beberapa bulan terakhir tidak melumpuhkan kekuatan utama militer Teheran.
"mimpi buruk bagi musuh".
Sebelumnya, Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer yang dilancarkan AS telah melumpuhkan basis produksi senjata Iran. Trump mengeklaim persediaan persenjataan Teheran yang tersisa hanya berkisar antara 21 hingga 22 persen.
"Sebagian besar pabrik drone telah dilumpuhkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dilumpuhkan, dan sebagian besar area produksi rudal telah dilumpuhkan," kata Trump.
Meskipun mengklaim banyak fasilitas yang hancur, mantan Presiden AS itu mengakui bahwa Iran belum sepenuhnya kehilangan potensi serangan.
"Mereka masih memiliki kapasitas. Mereka memiliki sejumlah rudal, mereka memiliki sejumlah drone," sebutnya.
Trump menambahkan penilaiannya mengenai sisa pasokan persenjataan musuh tersebut berdasarkan kalkulasi intelijen militer.
"Saya perkirakan dalam persentase, mungkin sekitar 21-22 persen dari rudal mereka. Itu jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak sebanyak saat kita pertama kali menyerang," klaim Presiden AS tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat mulai mengalihkan fokus strategi geopolitiknya di wilayah konflik tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa sektor energi kini menjadi perhatian utama pemerintahannya.
"Saya mengetahui bahwa harga minyak turun hari ini dan jauh lebih rendah dibandingkan saat mencapai puncaknya di awal konflik," ucap Vance.
Langkah penanganan pasokan energi ini dinilai sangat vital demi menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok bagi warga Amerika Serikat.
"Itu menjadi tujuan nomor satu — menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika di seluruh penjuru negara kita," kata Wapres AS tersebut.
Di samping masalah ekonomi domestic, Vance menyebutkan bahwa AS tetap menaruh perhatian pada isu pengayaan nuklir di kawasan Middle East.
"Kemudian, tentu saja, tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," cetusnya.