Tim IPB University Prediksi Fenomena Kuantum Baru
Eksperimen celah ganda asimetris berhasil mengungkap fenomena peralihan ketidakpastian dalam sistem kuantum. Penemuan baru ini berhasil diprediksi oleh tim peneliti dari Departemen Fisika IPB University, dilansir dari Detikcom. Hasil penelitian dari Divisi Fisika Teori IPB ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Physica Scripta dengan doi:10.1088/1402-4896/ae8e53.
Pengujian celah ganda umumnya menggunakan dua celah berukuran seragam. Tim IPB menerapkan pendekatan berbeda dengan sengaja merancang dua celah bertolak belakang atau tidak sama lebar.
Perubahan sederhana pada lebar dan jarak antarcelah terbukti mampu mengubah tingkat ketidakpastian kuantum. Pengajar fisika kuantum lanjut prodi S1 Fisika IPB, Prof Husin Alatas, memimpin penelitian ini bersama Fauzani Muhammad, Hendradi Hardhienata, dan Faozan Ahmad.
Sifat dasar partikel yang melintasi celah ternyata dipengaruhi langsung oleh bentuk geometri perangkat. Geometri yang sebelumnya hanya dianggap bagian rancangan alat kini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan keadaan kuantum. Model statistik mekanika kuantum yang melandasi temuan ini diformulasikan oleh fisikawan Indonesia Agung Budiyono bersama Daniel Rohrlich. Formulasi tersebut sekaligus memperluas pemahaman terhadap prinsip ketidakpastian Heisenberg.
Riset ini membuka peluang baru untuk penelitian fenomena koherensi kuantum. Pengaplikasiannya mencakup protokol pengukuran lemah, tomografi kuantum, hingga eksperimen which-way presisi. Pengendalian kondisi koherensi kuantum menjadi tantangan utama pengembangan teknologi kuantum 2.0. Inovasi ini mendukung sektor penginderaan berpresisi tinggi dan komunikasi kuantum yang aman.
Pengaturan perilaku sistem kuantum kini memiliki alternatif yang lebih sederhana melalui geometri perangkat. Kehadiran metode ini memangkas ketergantungan pada perangkat kompleks yang selama ini digunakan. "Temuan ini masih berada pada tahap teori sehingga perlu dibuktikan melalui eksperimen.
Namun, banyak teknologi besar lahir dari riset fundamental seperti ini. Transistor, laser, hingga magnetic resonance imaging (MRI) juga berawal dari pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep fisika," jelas Prof Husin. Kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi nasional dapat dibangun kuat melalui penguatan riset dasar.
Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi pengembang teknologi kuantum di masa depan, bukan sekadar konsumen.