IPB Ungkap Tiga Penyebab Utama Buah Rambutan Langka pada Akhir 2025

Share

Kelangkaan buah rambutan pada akhir tahun 2025 yang sempat dikeluhkan masyarakat akhirnya terungkap. Fenomena menghilangnya buah musiman yang biasa menjadi penanda penutup tahun ini dipicu oleh sejumlah faktor lingkungan dan ekonomi.

Pakar buah tropika dari IPB University, Prof Sobir, membeberkan tiga pemicu utama di balik minimnya panen rambutan tersebut. Berdasarkan penjelasannya, masalah ini mencakup iklim, kondisi fisiologi pohon, serta pergeseran nilai ekonomi.

Faktor pertama yang memengaruhi produksi adalah kondisi iklim sepanjang tahun 2025 yang cenderung mengalami kemarau basah. Keadaan iklim seperti ini memicu ketidakmaksimalan pada proses induksi pembungaan tanaman.

Selain faktor cuaca, rambutan juga memiliki sifat alami yang dikenal sebagai biannual bearing. Sifat ini membuat pohon berbuah sangat lebat pada satu periode, tetapi hasil panennya menyusut drastis pada tahun berikutnya.

Penurunan produksi terjadi karena cadangan energi hasil fotosintesis tanaman sudah tergerus saat panen raya sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Prof Sobir sebagaimana dikutip dari Detikcom melalui laman IPB University pada Sabtu (25/7/2026).

"Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2-4 minggu," jelas Prof Sobir.

Faktor Ekonomi dan Potensi Pemulihan Panen 2026

Penyebab ketiga berkaitan dengan pergeseran nilai jual rambutan yang dinilai relatif rendah. Nilai ekonomi yang minim ini membuat para petani enggan memetik hasil panen ketika jumlah buah di pohon sedikit.

Terkait pergeseran musim buah, Prof Sobir menilai hal itu sangat bergantung pada perubahan pola cuaca. Apabila periode kemarau berlangsung secara jelas dan kering, potensi peningkatan produksi buah pada musim selanjutnya akan cukup besar.

Prospek produksi rambutan pada tahun 2026 diperkirakan membaik. BMKG memproyeksikan 94,7% wilayah Indonesia mengalami curah hujan tahunan kategori normal antara 1.500 hingga 4.000 mm/tahun, sementara 5,1% wilayah lainnya diprediksi di atas normal. Prof Sobir berharap angka ini dapat mengembalikan tingkat produksi rambutan hingga kembali normal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author