Indeks MSCI China Merosot 15 Persen Akibat Pelemahan Ekonomi Domestik

Share

Indeks MSCI China mengalami kemerosotan tajam hingga 15 persen sepanjang tahun 2026 akibat pelemahan konsumsi domestik dan pengetatan regulasi aliran modal oleh pemerintah Beijing, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Selasa (30/6/2026). Penurunan ini menempatkan pasar saham China sebagai salah satu dengan kinerja terburuk di dunia, di mana raksasa teknologi Tencent Holdings Ltd dan Alibaba Group Holding Ltd mencatatkan kejatuhan nilai saham lebih dari 29 persen. Kondisi tersebut memicu kekecewaan besar di kalangan investor global yang sebelumnya memperkirakan adanya pertumbuhan stabil di pasar ekuitas China setelah kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada tahun lalu.

"Saham China telah menjadi beban utama bagi portofolio kami sepanjang tahun berjalan ini," kata Gerald Gan, Chief Investment Officer di Reed Capital.

Gan menambahkan bahwa kepemilikan saham di perusahaan besar seperti Tencent dan Alibaba memberikan performa yang sangat buruk dan mengecewakan akibat adanya divergensi lebar di antara negara ekonomi utama. "Kami memegang saham seperti Tencent dan Alibaba, tetapi kinerja mereka sangat buruk. Divergensi performa di antara negara-negara ekonomi utama saat ini terlampau lebar dan benar-benar mengecewakan," ujar Gerald Gan, Chief Investment Officer di Reed Capital.

Penurunan performa ekuitas ini juga diperparah oleh preferensi pelaku pasar yang lebih memilih produsen cip dibandingkan penyedia layanan komputasi awan, yang menempatkan China pada posisi kurang menguntungkan. "Saya cukup sedih karena memiliki saham Alibaba di portofolio saya," kata Chauwei Yak, Chief Executive Officer GAO Capital Pte di Singapura.

Yak menyoroti bahwa China sebagai negara dengan teknologi tinggi justru mencatatkan kinerja yang hanya berada di atas Indonesia, yang menurutnya memiliki tingkat teknologi relatif lebih rendah. "Yang lebih menyedihkan lagi adalah satu-satunya negara yang kinerjanya lebih buruk dari China hanyalah Indonesia. China adalah negara yang sangat tinggi teknologinya, namun satu-satunya negara yang bisa mereka kalahkan hanyalah negara dengan tingkat teknologi yang relatif lebih rendah dan memiliki jauh lebih banyak masalah.

Saya sangat positif terhadap China tahun lalu setelah menghadiri konferensi AI di Hangzhou," ujar Chauwei Yak, Chief Executive Officer GAO Capital Pte di Singapura. Di tengah tekanan bursa luar negeri, pasar domestik China di Shenzhen dan Shanghai justru terpantau lebih tangguh melalui kenaikan Indeks CSI 300 sebesar 6 persen yang ditopang oleh saham produsen perangkat keras teknologi.

"Sebagian besar tema saham yang kami sukai tercatat di bursa Shanghai dan/atau Shenzhen, seperti AI, industri, dan logam," kata Kevin Net, Head of Asian Equities di Financière de l’Echiquier di Paris.

Net menjelaskan bahwa pihaknya cenderung menghindari sektor konsumsi, internet, dan teknologi non-AI yang lebih banyak diperdagangkan di bursa luar negeri (offshore). "Apa yang Anda temukan di bursa luar negeri (offshore) adalah sektor konsumsi, internet, teknologi non-AI—yaitu sektor-sektor yang cenderung kami hindari," ujar Kevin Net, Head of Asian Equities di Financière de l’Echiquier di Paris. Tekanan ekonomi makro China juga terlihat dari penurunan angka penjualan ritel untuk pertama kalinya sejak pandemi, penyusutan investasi aset tetap, serta penurunan harga rumah yang kian cepat.

"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal kedua akan merosot ke kisaran 4,4% tahun ini, berada di bawah target pertumbuhan resmi setahun penuh," kata Larry Hu, kepala ekonomi China di Macquarie Group di Hong Kong.

Hu memprediksi pemerintah tidak akan menggelontorkan stimulus besar untuk mendongkrak konsumsi jika perdagangan AI global terus mengerek ekspor, sehingga permintaan dalam negeri akan tetap melemah. "Jika perdagangan AI global terus melonjak dan mengerek ekspor, pemerintah tidak akan menggelontorkan stimulus besar untuk mendongkrak konsumsi domestik, sehingga permintaan dalam negeri akan tetap lemah," ujar Larry Hu, kepala ekonomi China di Macquarie Group di Hong Kong.

Selain masalah ekonomi domestik, sentimen negatif bagi pasar modal China juga diperberat oleh isu regulasi serta risiko geopolitik yang melibatkan perusahaan teknologi besar dengan pemerintah Amerika Serikat. "Risiko geopolitik dalam berinvestasi di China belum hilang," kata Sam Konrad, Manajer Portofolio Jupiter Asset Management di Singapura.

Konrad menilai pasar saham China saat ini tidak memiliki perusahaan yang menjadi penerima manfaat utama dari belanja modal AI global seperti yang dimiliki oleh Korea Selatan atau Taiwan. "Dari sisi teknologi, pasar saham China saat ini tidak memiliki penerima manfaat utama dari belanja modal AI seperti yang dimiliki pasar saham Korea Selatan maupun Taiwan," ujar Sam Konrad, Manajer Portofolio Jupiter Asset Management di Singapura. Langkah tegas Beijing dalam mendenda tiga perusahaan sekuritas lintas batas senilai US$330 juta menyumbang tekanan likuiditas yang signifikan pada aktivitas pasar saham di Hong Kong.

"Sesince penindakan terhadap perdagangan lintas negara yang dianggap ilegal, tekanan terhadap indeks-indeks Hong Kong sangat terasa," kata Hao Hong, Chief Investment Officer Lotus Asset Management Ltd.

Hong menyatakan bahwa tanpa adanya partisipasi dana dari investor China daratan, penawaran umum perdana (IPO) mendatang di bursa Hong Kong akan menghadapi ujian likuiditas yang sesungguhnya. "Tanpa partisipasi dana dari China daratan, IPO yang akan datang akan menjadi ujian terhadap kondisi likuiditas sesungguhnya di Hong Kong," ujar Hao Hong, Chief Investment Officer Lotus Asset Management Ltd. Ketidakpastian pasar yang terus berlanjut membuat sejumlah manajer investasi global mulai menarik modal mereka sepenuhnya dari ekuitas China.

"Kami akan terus aktif mencari peluang investasi di China," kata Elfreda Jonker, Client Portfolio Manager Alphinity Investment Management di Sydney.

Jonker mengonfirmasi bahwa perusahaannya kini sudah tidak lagi memiliki saham China setelah menjual seluruh kepemilikan saham mereka di Tencent Holdings Ltd baru-baru ini. "Namun sejauh ini kami belum menemukan peluang yang benar-benar menarik," ujar Elfreda Jonker, Client Portfolio Manager Alphinity Investment Management di Sydney.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author