Ilmuwan Temukan Spesies Serangga Pembunuh Baru Berteknologi Parfum

Share

Spesies baru serangga pembunuh ditemukan oleh para peneliti di sebuah taman nasional dekat Darwin, Australia. Serangga tersebut menarik perhatian besar karena memiliki struktur fisik yang unik serta metode berburu yang tergolong ekstrem.

Makhluk berukuran kecil ini diberi nama Larrakia feather-legged assassin bug. Penamaannya menjadi bentuk penghormatan bagi masyarakat adat Larrakia yang merupakan pemilik tradisional wilayah penemuan tersebut, seperti dilansir dari Detikcom.

Ekolog asal Inggris, Daniel Bardey, menjumpai serangga ini pertama kali saat menyisir tumpukan daun kering. Penemuan satwa bernama ilmiah Ptilocnemus larrakia ini menjadi kabar penting bagi bidang entomologi karena sifatnya yang tersembunyi.

Ciri fisik menonjol dari Ptilocnemus larrakia terletak pada kaki belakangnya yang dipenuhi bulu lebat hingga menyerupai sepatu bot. Bagian tubuh berbulu ini diduga berfungsi sebagai pelindung dari serangan semut yang menjadi mangsa utamanya.

Selain keunikan kaki, predator kecil ini dilengkapi organ khusus penghasil cairan pemikat. Cairan tersebut berperan sebagai umpan kimia yang merangsang semut untuk datang mendekat tanpa menyadari adanya bahaya.

Ketika target sudah berada di posisi dekat, serangga pembunuh ini segera menusuk tubuh semut menggunakan alat mulut tajam berbentuk jarum. Cairan tubuh korban kemudian dihisap hingga habis sebagai cara berburu yang efisien.

Penelitian Lanjutan di Universitas Oxford

Setelah penemuan awal, para peneliti berhasil menemukan spesies yang sama di tiga lokasi berbeda di sekitar wilayah Darwin. Hal tersebut menandakan keanekaragaman hayati yang masih belum terdata sepenuhnya di dekat area aktivitas manusia.

Spesimen serangga pembunuh ini sekarang sedang diteliti lebih mendalam di Museum Sejarah Alam Universitas Oxford, Inggris. Penyelidikan difokuskan untuk memahami lebih jauh perilaku dan karakteristik fisik satwa tersebut.

Jika seluruh tahapan riset telah selesai, spesimen direncanakan untuk dikembalikan ke Australia. Objek penelitian ini nantinya bakal dipamerkan di Museum dan Galeri Seni Wilayah Utara Australia (MAGNT) agar dapat disaksikan oleh publik.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author