Ilmuwan Boleh Sematkan Nama Tokoh Dunia Jadi Nama Ilmiah Spesies Baru

Share

Pemberian nama pada spesies baru yang ditemukan tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena harus mematuhi kaidah ilmiah yang ketat. Dilansir dari Detikcom, para peneliti terkadang mengabadikan nama figur populer dunia sebagai identitas ilmiah makhluk hidup baru. Sistem penamaan ilmiah bagi fauna dan flora awalnya digagas secara sistematis oleh naturalis asal Swedia, Carl von Linné, pada abad ke-18.

Metode klasifikasi berjenjang ini pada mulanya mengandalkan bahasa Latin dan Yunani sebagai fondasi utama. Penggunaan kedua bahasa kuno tersebut dikarenakan statusnya sebagai bahasa pengantar internasional untuk sains kala itu. Kini regulasi penamaan telah bergeser menjadi lebih fleksibel sehingga nama tokoh besar dapat diserap selama memenuhi prosedur resmi.

Setiap varietas makhluk hidup yang sah secara hukum sains wajib memiliki nama ilmiah yang terdiri atas dua bagian. Tata cara reguler penamaan tersebut dikenal secara universal dengan istilah nomenklatur binomial.

Identitas ilmiah ini tersusun atas dua kata yang memiliki peran berbeda. Kata pertama menonjolkan klasifikasi kelompok besar atau genus yang wajib ditulis menggunakan awalan huruf kapital. Sementara itu, kata kedua menunjukkan spesifikasi spesies yang wajib ditulis seluruhnya dengan huruf kecil. Konsep ini melarang adanya dua spesies berbeda dengan nama yang sama persis dalam satu genus.

Regulasi Khusus Identitas Satwa

Pemberian label pada spesies baru menjadi tantangan yang masif bagi komunitas peneliti global. Pada tahun 2016, tercatat baru sekitar 1,2 juta spesies yang berhasil dinamai dari estimasi total data sebanyak 8,6 juta. Memasuki masa sepuluh tahun kemudian pada 2026, akumulasi jumlah temuan yang berhasil diidentifikasi dipastikan telah meningkat pesat. Standardisasi penamaan untuk kategori hewan diatur ketat oleh The International Code of Zoological Nomenclature (ICZN).

Otoritas ICZN memiliki panduan operasional baku yang terangkum dalam 18 bab. Terdapat beberapa ketentuan fundamental yang wajib dipatuhi oleh para pakar saat meresmikan identitas satwa baru. Pertama, kombinasi kata genus dan spesies harus bersifat unik serta belum pernah dipakai oleh fauna lain di dunia.

Peneliti wajib melakukan penelusuran literatur secara mendalam sebelum mengajukan nama tersebut. Kedua, penamaan dilarang keras mengandung unsur kasar yang dapat menyinggung perasaan individu maupun kelompok tertentu. ICZN tetap mempertahankan pakem ini meskipun kerap memicu silang pendapat di kalangan ilmuwan.

Ketiga, peneliti dilarang menggunakan nama pribadi mereka sendiri untuk spesies temuan mereka. Kendati demikian, mereka diizinkan memakai nama tokoh global, pahlawan sejarah, hingga selebritas sebagai bentuk penghormatan ilmiah.

Figur Populer yang Diabadikan pada Satwa

Praktik penamaan ini telah diterapkan pada sejumlah satwa yang menggunakan nama besar tokoh dunia. Salah satunya adalah pembawa acara TV Stephen Colbert yang namanya melekat pada tawon Aleiodes colberti, laba-laba Aptostichus stephencolberti, dan kumbang penyelam Agaporomorphus colberti.

Aktor Amerika Serikat, Leonardo DiCaprio, juga menginspirasi penamaan pohon Kamerun Uvariopsis dicaprio, kumbang air Grouvellinus leonardodicaprioi, serta katak Phyllonastes dicaprioi.

Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut diabadikan pada lebah Lasioglossum obamai, laba-laba Spintharus barackobamai, dan kumbang air Desmopachria barackobamai. Bahkan nama belakangnya digunakan untuk genus kadal purba yang telah punah, yakni Obamadon gracilis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author