Ikan Gabus Raksasa Jadi Ancaman Invasif di Berbagai Negara

Share

Ikan gabus raksasa atau giant snakehead (Channa micropeltes) kini menjadi ancaman serius di beberapa wilayah luar habitat aslinya. Seperti dilansir dari Detik iNET, popularitas ikan ini sebagai peliharaan memicu masalah baru karena banyak individu yang lepas atau sengaja dilepas ke alam liar.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) bahkan telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat waspada jika mendapati jenis ini di alam bebas. Di Amerika Serikat sendiri, jenis predator air tawar ini sudah tercatat berada di minimal enam negara bagian.Selain Amerika Serikat, lonjakan populasi spesies ini juga mengkhawatirkan wilayah lain seperti Sri Lanka dan Taiwan. Sifatnya yang sangat adaptif di berbagai kondisi lingkungan membuat eksistensinya dinilai mengancam keberadaan ikan lokal.

Meskipun ukurannya tidak mengungguli beberapa jenis ikan air tawar raksasa lain, gabus raksasa tetap menjadi pemangsa yang tangguh. Satwa ini bisa tumbuh dengan panjang mencapai 1,5 meter dan berat menyentuh 30 kilogram.

Bentuk tubuh memanjang yang ditunjang dengan ekor besar dan kuat membuat predator ini mampu melesat cepat dalam jarak pendek. Efektivitas serangan mendadak tersebut membuatnya berani mengincar mangsa yang berukuran lebih besar.

Spesies asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Semenanjung Malaya, ini memiliki organ khusus bernama suprabranchial chamber di balik insangnya. Struktur tersebut berfungsi mirip paru-paru sederhana untuk menyerap oksigen langsung dari udara bebas.

Berkat kemampuan unik ini, gabus raksasa terbukti tangguh hidup di perairan minim oksigen seperti rawa-rawa atau kolam berlumpur. Bahkan, mereka juga didapati mampu bertahan hidup dalam durasi yang cukup lama di wilayah daratan.

Letak sirip perut yang berdekatan dengan sirip dada membantu keseimbangan tubuhnya saat berada di luar air. Dengan meliukkan badan menyerupai ular, hewan ini dapat berpindah tempat menempuh jarak tertentu.

Secara visual, area punggung ikan dewasa memiliki warna gelap dengan kombinasi corak hijau serta merah muda yang berkilau di bawah cahaya matahari. Garis hitam tebal di sepanjang tubuh menjadi batas dengan area perut yang berwarna lebih terang.

Gigi Setajam Pisau dan Potensi Serangan

Predator oportunis ini dikenal tidak pemilih dalam urusan makanan karena didukung struktur mulut lebar dengan deretan gigi tajam. Gigitan awal yang sangat kuat bahkan sanggup memotong tubuh mangsa menjadi dua bagian.

Variasi pakan mereka meliputi ikan lain, amfibi, udang, krustasea, hingga burung air dan mamalia berukuran kecil. Mangsa dengan panjang tubuh hingga sepertiga dari ukuran tubuhnya sendiri tetap dapat mereka lahap.

Meski reputasinya menyeramkan, kasus penyerangan terhadap manusia di alam liar tergolong sangat jarang terjadi. Insiden umumnya dipicu oleh insting defensif ketika induk ikan sedang menjaga telur atau kelompok anaknya.

Induk jantan maupun betina memiliki sifat yang sangat protektif terhadap keturunan mereka. Mereka tidak ragu meluncurkan benturan keras ke arah penyelam atau manusia yang melintas terlalu dekat dengan area sarang.

Terdapat laporan mengenai penyelam yang sempat kehilangan napas akibat ditabrak dengan keras oleh ikan ini. Kasus fatal yang mengaitkan insiden tenggelamnya seseorang dengan serangan gabus raksasa juga pernah diperdebatkan di Thailand.

Efek gigitan dari predator air tawar ini dapat mengakibatkan luka robek serius yang membutuhkan penanganan medis karena berisiko memicu infeksi bakteri. Bagi masyarakat Indonesia, melihat kekuatan dan sifat agresifnya saat mengawal anak, disarankan untuk tetap menjaga jarak aman.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author