IHSG Merosot ke 5.371 akibat Sentimen Suku Bunga dan Geopolitik
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga 3,99 persen atau 222,29 poin ke posisi 5.371,78 pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi pukul 09.15 WIB. Penurunan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Data dari jambi.antaranews.com menunjukkan indeks langsung dibuka melemah di level 5.486,31 pada awal pekan. Kondisi ini memperpanjang tren negatif dari akhir pekan sebelumnya, di mana IHSG telah anjlok 4,20 persen ke posisi 5.595 pada Jumat (5/6/2026) dengan catatan net sell investor asing mencapai Rp3,7 triliun.
Kelesuan pasar domestik sejalan dengan rontoknya bursa global, termasuk Wall Street yang melemah signifikan serta mayoritas indeks di Asia. Menghadapi volatilitas ini, analis menyarankan pelaku pasar untuk menahan diri dari transaksi agresif.
"Kiwoom Research masih menyarankan untuk kembali perbanyak wait and see sebelum ambil posisi beli/ average down," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Liza menjelaskan bahwa fokus pasar saat ini bergeser pada risiko kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed, terutama setelah data Nonfarm Payrolls AS Mei 2026 bertambah 172.000 pekerjaan. Data ekonomi yang kuat tersebut berpotensi memicu kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral AS.
"Sehingga, membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap yang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar saat ini," ujar Liza,
Selain kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah pascaserangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David juga menjadi perhatian besar. Pelaku pasar kini mengawasi situasi di Selat Hormuz yang dapat mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia.
"Perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga," ujar Liza.
Di tengah tekanan indeks yang diprediksi bergerak di rentang support 5.381 hingga resistance 5.733, riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia via Bareksa memberikan beberapa rekomendasi saham pilihan untuk trading jangka pendek dengan strategi buy on weakness.
| Saham | Rekomendasi | Entry | Target | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|
| BTPS | Buy on Weakness | 800 | 875 | 770 |
| BUKA | Buy on Weakness | 107 | 116 | 97 |
| HEAL | Buy on Weakness | 765 | 845 | 700 |
| TPIA | Buy on Weakness | 1.205 | 1.375 | 1.100 |
Guna meredam tekanan di pasar keuangan domestik, Bank Indonesia bersama pemerintah sebelumnya menyatakan bakal fokus meningkatkan daya tarik aset keuangan. Langkah yang ditempuh meliputi pemberian imbal hasil kompetitif pada SBN dan SRBI serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan nasional.