IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Dipicu Sentimen Inflasi dan PMI

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Dikutip dari Bloombergtechnoz, performa ini melanjutkan capaian sebelumnya yang parkir di level 6.195 atau menguat sebesar 1,11% pada perdagangan Selasa (2/6/2026).

Kinerja positif indeks saham domestik ini ditopang oleh perbaikan indikator teknikal. Ketahanan aktivitas ekonomi dalam negeri yang ditunjukkan oleh sejumlah data makroekonomi turut menjadi pendorong utama.

Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam tren positif karena mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan lima hari (MA5). Kondisi ini diperkuat dengan menyempitnya histogram negatif MACD serta pergerakan Stochastic RSI yang menuju area pivot.

"With kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220 hingga 6.280," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Rabu (3/6/2026).

Dari sektor makroekonomi, tingkat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 berada di angka 3,08% secara tahunan (YoY). Realisasi ini menunjukkan kenaikan dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42% akibat dorongan kelompok makanan yang mencatat inflasi 4,94% YoY.

Kenaikan juga terjadi pada inflasi inti yang bergerak ke level 2,59% YoY dari sebelumnya 2,44% YoY. Meski mengalami peningkatan, realisasi inflasi tersebut dinilai masih aman karena berada di dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.

“Pelaku pasar juga mencermati potensi arah kebijakan suku bunga ke depan. Jika inflasi terus meningkat dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut, ruang untuk kenaikan suku bunga acuan masih terbuka,” lanjut riset tersebut.

Sektor manufaktur dalam negeri juga memperlihatkan sinyal pemulihan yang tercermin dari kenaikan indeks PMI manufaktur ke level 50 pada Mei 2026 dari posisi 49,1 pada April 2026. Angka ini menandakan aktivitas manufaktur kembali stabil setelah sempat menyentuh zona kontraksi.

Peningkatan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut menjadi penyokong utama perbaikan PMI. Kendati demikian, aktivitas ekspor masih dibayangi tekanan akibat gangguan jalur perdagangan global yang dipicu konflik di wilayah Timur Tengah.

Kondisi perdagangan luar negeri ikut mendapat perhatian pasar seiring menyusutnya surplus neraca perdagangan menjadi US$0,09 miliar pada April 2026. Angka tersebut merosot tajam dari capaian Maret 2026 yang sebesar US$3,32 miliar sekaligus menjadi surplus terkecil sejak April 2020.

Di sisi lain, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memberikan gambaran mengenai dinamika pasar yang cenderung bergerak menyamping atau sideways. Menurutnya, penguatan indeks saat ini masih disertai oleh munculnya volume tekanan jual dalam skala yang tidak terlalu besar.

“Kami memperkirakan, posisi pergerakan IHSG saat ini, diperkirakan masih berada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam. Area penguatan IHSG kami perkirakan akan menguji 6.362-6.484, dengan area koreksi terdekat berada di 5.899-6.080,” kata Herditya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author