IHSG 11 Juni 2026 Dibuka Melemah 0,05 Persen ke Level 5.899
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan dengan bergerak turun. Dikutip dari Bloomberg Technoz, indeks terpangkas 3,1 poin atau melemah 0,05% ke posisi 5.899 pada pukul 09:01 WIB, Kamis (11/6/2026).
Kondisi serupa terjadi pada mayoritas bursa utama di Asia yang bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Indeks Topix, KOSPI, NIKKEI 225, TW Weighted Index, KLCI, dan Shanghai Composite terpantau melaju di zona merah.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume transaksi mencapai 992 juta saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp629 miliar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 84.524 kali. Terdapat 327 saham bergerak menguat, 133 saham melemah, dan 198 saham berjalan stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang untuk menguat meskipun investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp2,93 triliun di pasar reguler pada hari sebelumnya.
Prospek penguatan bursa domestik didorong oleh kebijakan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps yang mengokohkan nilai tukar rupiah. Selain itu, kepastian harga BBM subsidi yang tidak naik serta pemulihan kepercayaan pemodal terhadap aset dalam negeri di tengah volatilitas global menjadi stimulus tambahan.
"Saat ini, kami memproyeksikan bahwa IHSG akan menguji level resistance pentingnya pada 5.960–6.000," mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, yang juga menyebut ada potensi melaju hingga level 6.200.
Pelaku pasar kini mencermati dampak kebijakan stabilisasi mata uang rupiah dan publikasi data ekonomi domestik terkait penjualan ritel. Saham pilihan dari BRI Danareksa Sekuritas meliputi DSSA, MBMA, dan BRPT.
Pengaruh Ketegangan Geopolitik Global
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi beban bagi pergerakan pasar. Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai negosiasi dengan Iran berjalan lambat dan melontarkan ancaman serangan.
Peluang perdamaian di kawasan tersebut kian menipis usai militer AS meluncurkan serangan ke Iran. Tindakan ini merupakan respons atas penembakan helikopter patroli AS di atas Selat Hormuz.
Pihak Iran menyatakan telah membalas aksi tersebut lewat gempuran rudal serta drone ke markas militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
“Bentrokan tersebut menandai salah satu konflik terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April,” mengutip paparan Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan untuk dicermati, yakni INDF, PGAS, BBNI, TLKM, dan ASSA.
Proyeksi dan Analisis Sekuritas Lain
CGS International Sekuritas Indonesia menjabarkan bahwa koreksi di bursa Wall Street akibat gejolak geopolitik dan kelanjutan aksi jual asing akan membayangi pasar sebagai sentimen negatif. Namun, penguatan rupiah yang konsisten berpotensi menjadi penahan kejatuhan.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.760–5.620 dan resistance 6.045–6.190,” tulis riset CGS International.
Saham pilihan dari CGS International meliputi BBRI, BMRI, MBMA, TINS, ISAT, dan ADRO.
Di sisi lain, Panin Sekuritas memperkirakan IHSG akan mengalami tekanan pelemahan. Faktor pemicunya adalah kenaikan tensi politik dunia, penurunan harga komoditas, dan arus keluar modal asing yang masih deras. Saham yang direkomendasikan adalah MIDI, PTBA, dan PACK.