Polisi Identifikasi Tiga Korban Tewas Penembakan di Islamic Center San Diego
Imam Taha Hassane mengidentifikasi tiga korban tewas dalam insiden penembakan yang terjadi pada Senin pukul 11.43 waktu setempat di Islamic Center of San Diego, Clairemont, setelah pihak kepolisian tiba di lokasi dalam waktu empat menit.
Para korban yang meninggal dunia dalam serangan tersebut adalah seorang petugas keamanan bernama Amin Abdullah, serta dua orang anggota komunitas masjid yaitu Mansour Kaziha dan Nadir Awad.
Direktur Islamic Center of San Diego, Imam Taha Hassane, memberikan penghormatan kepada Amin Abdullah yang dikenal sebagai sosok yang sangat ramah di lingkungan pusat komunitas Muslim tersebut.
"He never stops smiling to anyone, our community members as well as our visitors," kata Taha Hassane.
Menurut keterangan Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, Abdullah merupakan orang pertama yang menghadapi para pelaku di luar masjid dan sempat terlibat aksi saling tembak dengan kedua pemuda tersebut.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas, Abdullah terlihat menggunakan radionya untuk memulai prosedur penguncian keamanan masjid sebelum para pelaku menembaknya dan merangsek masuk ke area lobi depan.
"His actions, without a doubt, delayed, distracted and ultimately deterred these individuals from gaining access to the greater areas of the mosque, where as many as 140 kids were within 15 feet of these suspects," ujar Scott Wahl.
Rekaman video menunjukkan pelaku kemudian keluar ke area parkir karena penguncian tersebut dan menyudutkan Mansour Kaziha serta Nadir Awad yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Hassane menjelaskan bahwa Kaziha adalah sosok senior yang telah menjadi bagian dari komunitas sejak tahun 1986 dan berperan besar dalam pembangunan pusat komunitas.
"When the community started breaking the ground to build the community center (Kaziha) was there," kata Taha Hassane.
Kaziha juga diketahui sebagai orang pertama yang menghubungi layanan darurat 911 saat peristiwa penembakan itu mulai terjadi.
"He was the handyman, he was the cook, he was the caretaker. He was everything," tutur Taha Hassane.
Hassane menambahkan bahwa dirinya merasa sangat kehilangan dan bingung menghadapi situasi ke depan tanpa kehadiran figur penting tersebut di masjid.
"I don’t know what I’m going to do … without his assistance," ucap Taha Hassane.
Sementara itu, korban ketiga bernama Nadir Awad digambarkan sebagai jemaah yang taat dan suaminya bekerja sebagai guru di sekolah Islam setempat.
"He lives across the street from the Islamic Center. His wife is a teacher at the Islamic school. He is every single day at the Islamic Center joining the prayers, every single day," sebut Taha Hassane.
Kepala Kepolisian Scott Wahl menegaskan bahwa respons cepat dari aparat keamanan membuat kedua pelaku yang berusia 17 dan 18 tahun itu panik lalu melarikan diri ke dalam mobil, di mana keduanya kemudian ditemukan tewas bunuh diri.
"The massive response that was seconds away undoubtedly pushed both of the suspects to run back to their vehicle and flee the parking lot, and I want to be very clear: all three of our victims did not die in vain … without delaying the actions of these two individuals, without question, there would have been many more fatalities yesterday," tegas Scott Wahl.
Pihak kepolisian sengaja belum merilis identitas kedua pelaku penembakan demi menghormati para korban dan proses pemulihan komunitas.
"What you will not hear from us today is the names of these two suspects," jelas Scott Wahl.
Wahl menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah memberikan ruang bagi para korban dan menyatukan kembali komunitas yang sedang berduka.
"Today is about our victims and our community coming back together," pungkas Scott Wahl.
Kepala Biro FBI San Diego, Mark Remily, memaparkan bahwa kedua pelaku mengalami radikalisasi online dan memiliki manifesto yang berisi ideologi kebencian rasial serta agama yang merujuk pada pelaku penembakan masjid Christchurch tahun 2019.
"these subjects did not discriminate on who they hated," kata Mark Remily.
Kedua pelaku saling mengenal lewat internet sebelum mengetahui bahwa mereka tinggal di wilayah yang sama, dan saat ini interogasi pihak keluarga serta penggeledahan rumah sedang dilakukan.
"In terms of how the radicalization occurred, we’re still digging into that," ungkap Mark Remily.
Dalam penggeledahan di kediaman pelaku, petugas menyita lebih dari 30 senjata api milik orang tua pelaku serta sebuah busur silang, sementara perangkat elektronik pelaku masih diperiksa oleh FBI.
"We’re still looking into it," sahut Scott Wahl saat ditanya mengenai potensi tuntutan hukum terhadap orang tua pelaku.
Hassane mengakui bahwa pihak Islamic Center sering menerima pesan kebencian dan telah menerapkan berbagai sistem pengamanan ketat, namun serangan ini tetap mengejutkan mereka.
"We have never expected this, even though we tried throughout the years everything we could do, applying for homeland security grants, we have a fence, security armed guards, security cameras covering every single spot inside and outside the Islamic Center," keluh Taha Hassane.
Hassane mempertanyakan langkah pencegahan apa lagi yang bisa dilakukan oleh komunitasnya setelah semua fasilitas keamanan tersebut telah terpasang.
"What could we do more than this?" tanya Taha Hassane.
Sebagai antisipasi lanjutan, kepolisian di seluruh wilayah San Diego kini mulai meningkatkan patroli keamanan di berbagai rumah ibadah.
"You’re going to see a visible presence at places of worship," kata Scott Wahl.