Houthi Ancam Bandara Arab Saudi Akibat Ketegangan Udara
Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat setelah milisi tersebut mengancam akan menyerang bandara dan aset vital Saudi pada Jumat (3/7/2026), akibat tuduhan penghalangan pesawat Iran, seperti dilansir dari Detikcom.
"Kami memperingatkan musuh kriminal Saudi agar tidak mengulangi upaya apa pun untuk melanggar wilayah udara kami atau agresi apa pun yang menargetkan negara kami," kata juru bicara militer Houthi, Yahya Saree.
Pihak Houthi menegaskan bahwa serangan balasan yang luas akan dilakukan jika wilayah udara mereka kembali dilanggar oleh pihak Saudi.
"Tindakan seperti itu akan dibalas dengan respons komprehensif yang menargetkan bandara-bandara dan kepentingan vitalnya di darat dan laut," cetus Yahya Saree, dilansir Al-Jazeera, Sabtu (4/7/2026).
Pasukan Houthi mengklaim telah menggunakan rudal pertahanan udara untuk menghalau jet tempur Saudi yang dituding mencoba menghalangi pendaratan pesawat sipil Iran di Bandara Internasional Sanaa. Pesawat tersebut dilaporkan membawa lebih dari 200 pasien serta delegasi Houthi menuju Teheran untuk menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Merespons ancaman tersebut, koalisi pimpinan Arab Saudi menilai pernyataan dari kelompok Houthi hanyalah sebuah taktik untuk mengalihkan perhatian masyarakat internasional.
"Pernyataan Houthi terhadap Kerajaan kemarin hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran berat mereka terhadap rakyat Yaman, di mana mereka mencoba mengekspor bencana ekonomi dan penderitaan Yaman yang telah mereka sebabkan," kata juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, Sabtu (4/7/2026).
Al-Malki menganggap gertakan milisi tersebut sebagai bentuk perpanjangan dari sikap bermusuhan yang selama ini ditunjukkan oleh kelompok tersebut.
"perpanjangan dari eskalasi dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh milisi Houthi dan upaya mereka untuk merusak keamanan regional dan internasional." tambah Turki al-Malki.
Pihak koalisi juga menyatakan kesiapan penuh untuk memberikan balasan yang tegas demi melindungi kedaulatan serta seluruh warga negara di Arab Saudi.
"dengan tekad dan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap setiap upaya untuk menargetkan Kerajaan, warga negara dan penduduknya, serta aset nasional, atau setiap upaya untuk melanggar kedaulatan Republik Yaman." janji Turki al-Malki.
Konflik bersenjata antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi telah berlangsung sejak 2015 dan memicu krisis kemanusiaan yang besar. Kendati demikian, intensitas pertempuran kedua belah pihak sempat mereda setelah adanya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB pada tahun 2022.