Hindari Orang Tua Ucapkan 10 Kalimat yang Dibenci Anak hingga Dewasa

Share

Hubungan antara orang tua dan anak yang telah beranjak dewasa tidak selamanya berjalan tanpa hambatan. Kesalahpahaman kerap terjadi dan memicu kekesalan di antara kedua belah pihak meskipun niat awalnya baik.

Sebuah penelitian dari Psychology and Aging mengungkapkan bahwa perbedaan usia serta nilai-nilai personal turut memengaruhi metode berkomunikasi. Orang tua dituntut lebih peka terhadap perasaan anak demi mengikis jarak emosional yang muncul.

Dilansir dari HaiBunda yang mengutip laman Your Tango, terdapat sejumlah kalimat yang kurang disukai anak bahkan hingga mereka tumbuh dewasa. Berikut adalah sepuluh ucapan yang sebaiknya dihindari dalam interaksi sehari-hari.

1. "Karena Bunda bilang begitu"

Anak-anak yang beranjak dewasa membutuhkan pengakuan sebagai individu mandiri yang mampu mengambil keputusan. Kalimat seperti "Karena Bunda bilang begitu" atau "Nanti kamu akan mengerti kalau sudah lebih besar" membuat kemampuan berpikir mereka terkesan diremehkan.

Dampaknya, anak cenderung memilih memendam perasaan demi menghindari perselisihan saat berada di rumah.

2. "Kamu sudah melakukannya dengan baik, tapi…"

Apresiasi dari orang tua tetap menjadi hal penting bagi anak dewasa untuk membangun rasa percaya diri. Pujian yang langsung diikuti oleh kritik dinilai sebagai bentuk penghakiman terhadap pilihan hidup mereka yang memicu kerenggangan hubungan.

3. "Setelah semua yang sudah Bunda lakukan untukmu?"

Ucapan ini biasanya muncul saat orang tua merasa pengorbanannya diabaikan. Namun, terapis keluarga asal Amerika Serikat, Sarah Epstein, menjelaskan bahwa membangkitkan rasa bersalah hanya efektif dalam jangka pendek.

"Namun dalam jangka panjang, anak merasa dimanipulasi secara emosional, menyimpan kekecewaan, dan bahkan membangun jarak dalam hubungan dengan orang tuanya." ujar Sarah Epstein.

4. "Kami tahu apa yang terbaik untukmu"

Kalimat perlindungan ini sering kali justru membuat anak merasa pendapat dan keinginannya tidak dihargai. Jika disampaikan secara memaksa, anak akan kesulitan berkembang serta kehilangan rasa percaya diri dalam menentukan jalan hidup.

5. "Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih kepada kami"

Maksud baik orang tua dalam memberi arahan lewat kalimat ini berisiko membuat perasaan dan kekhawatiran anak terabaikan. Anak dewasa lebih membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan serta memberikan dukungan emosional langsung.

Meski demikian, seorang psikolog dari Amerika Serikat, Hal Shorey, memberikan perspektif tambahan mengenai dinamika hubungan ini.

"Tidak semua anak yang merasa tidak dihargai selalu berada di pihak yang benar. Begitu pula juga dengan orang tua, tidak semuanya sengaja meremehkan atau mengabaikan perasaan anak mereka." kata Hal Shorey.

6. "Nanti orang lain akan berpikir apa tentang kamu?"

Kekhawatiran orang tua terhadap penilaian lingkungan sosial melalui kalimat ini dapat menekan anak. Akibatnya, anak terdorong untuk selalu memenuhi ekspektasi orang lain dan mengabaikan kenyamanan diri sendiri.

7. "Di mata Bunda, kamu akan selalu jadi anak kecil"

Ungkapan kasih sayang ini terkadang membuat anak merasa kemandirian dan opininya belum sepenuhnya dipercaya. Anak dewasa tetap menginginkan perlakuan yang setara tanpa harus kehilangan kasih sayang orang tua.

8. "Kamu harus lebih bersyukur"

Kalimat ini berpotensi membuat kesulitan atau trauma masa kecil yang sedang dihadapi anak dianggap tidak penting. Padahal, keterbukaan anak dalam membahas hal sensitif menjadi bagian dari proses mereka untuk bertumbuh lebih baik.

9. "Kamu memang dari dulu seperti itu"

Respons ini dapat menyakiti anak yang sedang berupaya memperbaiki diri atau keluar dari kebiasaan buruk. Mengaitkan masa lalu dengan kekurangan anak akan menurunkan rasa percaya diri mereka untuk berkembang.

10. "Kamu sudah tidak sayang sama Bunda"

Kalimat yang muncul dari rasa kecewa atau kurangnya perhatian ini memberikan tekanan emosional berupa rasa bersalah pada anak. Pada dasarnya, deretan ucapan yang dihindari ini umumnya berakar dari rasa cemas, takut kehilangan, atau ketidakamanan emosional orang tua.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author