oleh

Hidup di Tengah Wabah, Bang Ipul: Menyerah Bukanlah Pilihan

Perang antara umat manusia melawan virus Covid-19, belum juga usai, bahkan di sisi lain ada yang baru memulai peperangan tersebut.

Satu demi satu usaha dan bisnis tumbang, menelan korban-korban yang tak mampu lagi, bahkan untuk menyalakan api dapur.

Di antara mereka yang terdampak pandemi, semangat bertahan hidup menjadikan bara yang mampu menopang api dapur untuk berdiri di kaki sendiri.

”Menyerah bukanlah pilihan. Namun, perjuangan bukan hanya tentang pandemi, melainkan juga menyambung hidup. Ini tantangan harus dijawab, bukan lips service dan berteori belaka,” tegas Calon Bupati Lampung Timur Zaiful Bokhari, kepada Publika.id belum lama ini.

Perjuangan menyambung hidup, dapat kita lihat lewat tangan-tangan terampil sejumlah wanita dewasa ini. Mereka gigih, bergerak lincah menyelesaikan berbagai persoalan hidup untuk memenuhi kebutuhan rumah.

”Saya lihat di televisi  mereka lincah bekerja. Ada yang menghasilkan  gorden, taplak meja, dan taplak kulkas yang indah. sampai ada yang menyelesaikan pesanan masker dan baju hazmat. Ini bukti bahwa mereka tidak menyerah. Dari mikro, sampai UMKM bangkit melawan, tugas kita mengawal mereka,” tutur Bang Ipul-sapaan akrab Zaiful Bokhari itu.

Baca Juga  Diberi Saran Alhamdulillah, Bang Ipul: Dikritik Rakyat itu Vitamin

Bang Ipul mengaku pernah membaca sebuah sebuah artikel. Yang menceritakan tentang pahitkan seorang TKW di-PHK lantaran pabrik tempatnya bekerja sudah tak lagi memakai jasanya.

”Nur Asih salah satu sosok dalam narasi bertutur yang disajikan pada artikel itu. Ia seorang TKI di Singapura,” cerita Bang Ipul.

Tahun 2013 memutuskan pulang ke Indonesia, lalu  buka usaha laundry. Tiga bulan pertama gagal total, hingga akhirnya bisa bertahan dan punya 6 cabang. Dari pengalaman itu, semangat bisnis Nur kian membara.

FOTO: ANTARA

Berawal dari mengikuti pelatihan bisnis kuliner, Nur mendapatkan ilmu berharga terkait dengan bagaimana menentukan harga jual dan manajemen pemasaran. Dia pun terbesit untuk langsung terjun melakukan bisnis kuliner.

Awalnya, Nur mencoba memproduksi roti manis. Namun, karena kurang menguasai resep membuat adonan roti yang benar-benar pas, gagal pembuatan roti tersebut.

Baca Juga  Zaiful-Dibyo: Petani Lamtim Harus Modern, Maju dan Mandiri

Nur lalu teringat bahwa almarhumah neneknya memiliki resep keripik pisang yang enak sekali. ”Saat itu, saya kepikiran untuk memanfaatkan resep turun-temurun keluarga menjadi sebuah peluang bisnis,” cerita Bang Ipul.

Benar saja, dengan modal Rp100 ribu untuk membeli pisang tanduk dan bahan lain, bisnis Nur perlahan mulai gemilang. Hingga puncaknya di akhir tahun 2015, Nur bertemu dengan seorang distributor keripik di Brunei Darussalam di sebuah pameran.

Tertarik dengan produk Nur, mereka pun sepakat menjalin kerja sama untuk memasarkan produk Nur di Brunei. Alhasil, produk keripik pisang Nur pun booming di negeri tersebut.

Tidak hanya ke Brunei. Nur mengaku setiap 4 bulan sekali rutin mengekspor produk keripiknya ke berbagai negara. Tidak tanggung-tanggung, sekali pengiriman bisa mencapai 1 kontainer keripik. Dengan harga Rp10 ribu per kilogram, dia bisa meraup omzet Rp500 juta hingga Rp800 juta setiap pengiriman.

Jika ada lebih dari satu negara tujuan dalam sekali pengiriman, omzet yang didapat bisa lebih dari Rp1 miliar.

Baca Juga  Idham Azis Makin Tegas, Azis Syamsuddin ”Standing Applause”

Seperti yang terjadi baru-baru ini, pada masa pandemi ini, dia tetap berjuang dan mampu mengirim 1 kontainer ke Dubai dan Qatar. Selain Qatar, produknya kini sudah sampai ke beberapa negara Eropa, seperti Prancis, Belgia, Jerman, dan Belanda.

”Di negara Eropa tersebut, produk keripik apel yang menjadi primadona, sedangkan di Qatar, justru produk kerupuk jengkol yang menjadi idola,” tutur Bang Ipul.

Jika awalnya usaha rumahan, kini Nur sudah memiliki workshop di daerah Karawang, Jawa Barat. Di sana, dia memiliki sekitar 260 tenaga kerja untuk membantu produksi keripik miliknya.

”Di tengah pandemi seperti ini. Usaha Nur yang paling bertahan. Nur mengusung usaha berbasis sociopreneur, dia banyak menggunakan jasa para mantan TKI yang sudah lanjut usia, terutama dari kalangan ibu-ibu. Inilah bukti, bahwa menyerah bukanlah pilihan,” pungkas pasangan Ahmad Sudibyo itu menceritakan pengalamannya membaca. (man/tap)

 

Foto: Faisal R Syam / Publik.id

Baca Juga