Harga Pangan Global Turun Tipis Setelah Gencatan Senjata AS-Iran
Indeks harga komoditas pangan global mengalami penurunan tipis sebesar 0,3 persen pada Juni setelah kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran gangguan pasokan pertanian, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (3/7/2026).
Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat penyusutan indeks bulanan tersebut utamanya dipicu oleh koreksi harga biji-bijian dan gula. Perjanjian antara Washington dan Teheran berhasil memulihkan arus perdagangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman komoditas pangan, pupuk, serta solar, sehingga premi risiko perang pun menghilang.
Meskipun demikian, indeks FAO pada Juni ini masih tercatat 1,7 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga bertahan hampir 19 persen di bawah rekor tertinggi yang pernah terjadi saat awal konflik Rusia-Ukraina pada Maret 2022.
Memasuki musim panen di Belahan Bumi Utara, pasar kini mulai mencermati penyusutan luas lahan tanam dan ancaman cuaca panas ekstrem di Eropa, ditambah potensi datangnya fenomena iklim El Niño. Kendati ada tantangan cuaca, FAO memproyeksikan produksi biji-bijian global tahun 2026 tetap akan mencapai hampir 3 miliar ton, menjadi capaian tertinggi kedua dalam sejarah meski turun 1,9 persen dari tahun lalu.
Situasi pasar pertanian terkini turut mendapat perhatian dari pengamat internasional yang melihat adanya pergeseran fokus pasca-redanya konflik geopolitik tersebut.
"Fokus pasar kini kembali pada faktor-faktor fundamental yang lebih tradisional di pasar biji-bijian dan minyak nabati," ujar Joseph Glauber, peneliti senior emeritus di International Food Policy Research Institute.
Ia menambahkan melalui surat elektronik bahwa secara umum kondisi tanaman global saat ini masih terlihat cukup baik.