Harga Emas Dunia Berpotensi Menguat hingga Rp2.780.000 per Gram

Share

Harga emas dunia diproyeksikan mengalami penguatan hingga menyentuh angka Rp2.780.000 per gram pada pekan depan setelah ditutup pada level Rp2.670.000 per gram pada penutupan perdagangan pekan ini, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Minggu (5/7/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai komoditas logam mulia ini berpotensi melonjak di antara rentang Rp2.690.000 hingga Rp2.780.000 per gram. Namun, jika mendapatkan sentimen negatif, penurunan harga diperkirakan tidak terlalu dalam dan bergerak di rentang Rp2.550.000 sampai Rp2.650.000 per gram.

"Apabila menguat, resisten pertama itu logam mulianya di Rp 2.690.000 per gram. Seandainya emas dunia menguat terus, di resisten ke dua itu di Rp 2.780.000 per gram," beber Ibrahim, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.

Faktor utama pendorong penguatan ini adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, yang diperkirakan akan ditahan atau bahkan diturunkan. Kebijakan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan inflasi seiring turunnya harga minyak mentah setelah meredanya tensi perang AS-Iran, serta membaiknya data tenaga kerja dan pengangguran di AS.

"Ada kemungkinan inflasi turun, sehingga bank sentral tidak akan naikkan suku bunga hanya pertahankan suku bunga. Tetapi lihat harga minyak mentah terus turun, bisa jadi suku bunga turun juga. Ini yang membuat harga emas kembali terbang," kata Ibrahim, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.

Sentimen positif ini memicu proyeksi bahwa harga komoditas tersebut akan meroket lebih tinggi dalam jangka panjang.

"Ini membuat harga emas naik signifikan bahkan ada kemungkinan besar harga emas dunia menuju level US$ 5.000 per troy ons," sebut Ibrahim, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.

Selain kebijakan The Fed, tren penguatan juga didukung oleh langkah bank sentral global, seperti di China dan Singapura, yang terus menambah cadangan logam mulia mereka untuk menjaga momentum kenaikan harga.

"Sejak bulan Mei bank sentral global melakukan pembelian emas 41 ton emas batangan. Untuk China 10 ton, sampai Mei totalnya 2.331 ton. Uzbekistan 9 ton menjadi 33 ton.

Kazakhstan juga alami kenaikan hingga 7 ton. Singapura juga terus memupuk logam mulianya hingga 4 ton pada Mei kemarin," papar Ibrahim, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.

Penurunan harga emas dunia saat ini dipandang sebagai kesempatan bagi bank sentral untuk melakukan akumulasi pembelian.

"Menurutnya saat emas dunia mengalami pelemahan, momen ini memjadi kesempatan bank sentral untuk melakukan pembelian logam mulia. Sebab setelah perang AS-Iran reda dan Selat Hormuz dibuka lagi, maka harga minyak turun bank dan bank sentral global menurunkannya bunga. "Ini membuat harga logam mulia mengalami lonjakan signifikan," sebut Ibrahim, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author