Goldman Sachs Prediksi Pasar Minyak Global Kembali Kelebihan Pasokan

Share

Pasar minyak global diproyeksikan akan kembali mengalami kelebihan pasokan seiring meredanya dampak perang Iran dan pulihnya lalu lintas Selat Hormuz pada Rabu (1/7/2026), dilansir dari Bloombergtechnoz. Samantha Dart selaku salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc. menjelaskan bahwa pengisian kembali cadangan minyak strategis global hanya akan mengimbangi sebagian dari kelebihan pasokan yang diantisipasi. "Begitu arus lalu lintas melalui selat tersebut kembali normal, diperkirakan kita akan mengalami kelebihan pasokan," kata Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc.

Dart menambahkan bahwa surplus minyak mentah tersebut diproyeksikan mencapai rata-rata sedikit di atas 3 juta barel per hari pada tahun depan.

"Kami memang memperkirakan sedikit di atas 1 juta barel per hari hanya dari penambahan SPR secara global, tetapi tetap saja, hal itu akan menyisakan kelebihan pasokan sekitar 2 juta barel per hari," tambah Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc. Gangguan yang terjadi baru-baru ini sempat menunda jadwal pemulihan arus logistik minyak mentah di kawasan Timur Tengah tersebut.

"Kami benar-benar berharap, pada akhir Juli, ini sudah selesai," kata Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc. Terkait rencana penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas, Dart mengonfirmasi bahwa pelaku usaha pelayaran lebih mencemaskan ketidakpastian regulasi dibandingkan nominal biayanya.

"Ketika saya berbicara dengan perusahaan pelayaran, hal utama yang mereka sampaikan adalah: ‘Saya tidak keberatan membayar biaya tol, asalkan ada kejelasan mengenai aturannya’," ujar Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc. Aturan yang jelas tersebut sangat dibutuhkan oleh korporasi pelayaran demi menghindari risiko pelanggaran sanksi dari Amerika Serikat. "Apakah hal ini benar-benar akan meningkatkan biaya energi secara signifikan? Itu tidak jelas," kata Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc.

"Ketika saya berbicara dengan perusahaan pelayaran, itulah kesan yang saya dapatkan dari mereka," tambah Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc.

Proyeksi kelebihan pasokan dari Goldman Sachs ini sejalan dengan analisis dari Morgan Stanley yang juga telah menurunkan proyeksi harga minyak sebanyak dua kali dalam kurun waktu kurang dari dua minggu. "Seiring perhatian beralih ke tahun 2027, pasar telah kembali ke titik awal—kembali ke kondisi surplus," kata analis Morgan Stanley dalam catatan pekan ini. Berdasarkan data perdagangan hari Rabu, harga minyak Brent bergerak di kisaran sedikit di atas US$73 per barel, berbanding terbalik dari masa puncak perang yang sempat menembus angka US$126 per barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author