Fenomena Gerhana Matahari Total Memicu Lonjakan Wisatawan di Spanyol dan Islandia
Jutaan warga dan wisatawan membanjiri wilayah Spanyol dan Islandia untuk menyaksikan fenomena gerhana matahari total secara utuh pada Rabu (12/8) sore waktu setempat, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Para pengunjung memadati jalur gerhana dengan menggunakan kacamata pelindung khusus.
Antusiasme tinggi juga melanda kawasan selatan Jerman. Piringan Matahari di wilayah tersebut diperkirakan bakal tertutup Bulan hingga 90 persen menjelang Matahari terbenam.
Layanan Cuaca Jerman (DWD) menyampaikan bahwa sistem tekanan tinggi berpotensi membuat langit di sebagian besar Jerman menjadi cerah saat peristiwa langka itu terjadi.
"Dari sisi cuaca, kondisinya justru sempurna," ujar pihak Layanan Cuaca Jerman (DWD).
Otoritas lokal memperkirakan hingga 6 juta wisatawan mendatangi daerah pedesaan di Spanyol yang membentang dari utara daratan hingga Kepulauan Balearic. Penumpukan massa tersebut diantisipasi dengan pengerahan kepolisian secara masif lantaran bertepatan dengan musim rawan kebakaran hutan.
"Saya berharap malam ini akan melahirkan generasi astrofisikawan yang luar biasa," kata Juan Cruz, Sekretaris Negara Spanyol untuk Sains.
Pemerintah setempat memanfaatkan momentum ini untuk mengalihkan konsentrasi kerumunan dari resor pantai yang terlalu padat menuju daerah yang jarang dikunjungi wisatawan. Wilayah Semenanjung Iberia tercatat terakhir kali mengalami gerhana matahari total pada 1912.
"Ini momen yang sangat istimewa," kata Juan Cruz, Sekretaris Negara Spanyol untuk Sains.
Sementara itu di Islandia, kacamata gerhana habis terjual di Reykjavik beberapa hari sebelum acara. Negara berpenduduk 400 ribu jiwa tersebut menyambut kedatangan sekitar 80 ribu wisatawan asing.
Fase totalitas di bagian paling barat Islandia melintas pada pukul 17.44 waktu setempat dan berlangsung hingga 2 menit 13 detik. Penampil musik Bjork juga dijadwalkan tampil sebagai DJ dalam acara bertema gerhana di selatan Reykjavik.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) turut mengerahkan pesawat WB-57 dan balon udara guna mempelajari dampak penurunan suhu serta kegelapan mendadak terhadap lapisan atmosfer bawah.
"Wah, ini keren sekali," kata Krista Kern, wisatawan asal North Carolina.
Para penggemar dan pemburu gerhana internasional turut mendatangi jalur totalitas demi mengamati fenomena alam tersebut secara langsung.
"Cuacanya pada Agustus cukup menjanjikan, durasi totalitasnya lumayan, lebih dari satu setengah menit, dan tempat ini mudah dijangkau," ujar Gordon Telepun, pensiunan ahli bedah plastik sekaligus astronom amatir asal Amerika Serikat.
Rangkaian fenomena ini menjadi pembuka dari "Trio Gerhana Iberia". Wilayah Semenanjung Iberia dijadwalkan kembali mengalami gerhana matahari total pada 2 Agustus 2027 dan gerhana cincin pada Januari 2028.