Gempa NTT Tewaskan 73 Orang dan BMKG Catat 3.055 Susulan

Share

Jumlah korban jiwa akibat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melonjak menjadi 73 orang hingga Rabu (19/8/2026) malam. Berdasarkan laporan BMKG yang dilansir dari Detikcom, sebanyak 3.055 kali gempa susulan telah mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya.

Data dari Badan SAR Nasional mencatat total korban luka berat dan luka ringan mencapai 931 orang. Korban jiwa tersebar di tujuh kabupaten di kawasan Flores, dengan dampak terparah berada di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai.

"Rekapitulasi sementara meninggal dunia 73 orang," kata kepala kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, Rabu (19/8/2026) malam.

Dampak bencana mencakup Kabupaten Manggarai dengan 27 korban jiwa, 32 luka berat, serta 104 luka ringan. Wilayah Manggarai Timur mencatat 24 korban meninggal dunia, 198 luka berat, dan 421 luka ringan.

Selain itu, korban tewas tercatat di Kabupaten Nagekeo sebanyak 11 orang, Sikka 5 orang, serta Ende, Ngada, dan Manggarai Barat masing-masing mengonfirmasi 2 orang meninggal dunia.

Di sisi lain, BMKG memperkirakan frekuensi gempa susulan di NTT akan meluruh secara bertahap dalam kurun kurun waktu tiga hingga empat minggu ke depan.

"Laju gempa susulan dapat mencapai tingkat yang relatif rendah dalam tiga (minggu) sampai satu bulan ke depan, mungkin di akhir September 2026," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).

Pihak BMKG menegaskan bahwa penurunan aktivitas ini bukan menandakan getaran akan berhenti sepenuhnya, melainkan menunjukkan tren grafik yang mulai menurun. Tren ini terus diperbarui sesuai pengamatan data terbaru.

"Secara umum, dari grafik terlihat bahwa kecenderungannya menurun. Walaupun dalam beberapa periode dapat terjadi peningkatan aktivitas, secara keseluruhan gempa susulan ini akan menurun," terang Nelly.

Evaluasi data seismik berkala terus dilakukan untuk memantau pergerakan sesar aktif di sekitar wilayah Flores pascabencana tersebut.

"Hasil perhitungan sementara kami, kira-kira dalam waktu 21 sampai 30 hari ke depan (gempa susulan) akan segera menurun," lanjutnya.

Sementara itu, BMKG merilis pemutakhiran data yang mencatat guncangan terbesar dari rangkaian gempa susulan mencapai magnitudo 6,2, sementara guncangan terkecil berada di magnitudo 1,1.

"Perlu dipastikan bahwa diperlukan waktu hingga puluhan tahun agar sesar naik di busur belakang Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang terjadi saat ini," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kepala BMKG menepis kekhawatiran masyarakat mengenai ancaman gempa susulan bermagnitudo lebih besar dalam waktu dekat, mengingat jeda waktu akumulasi energi sesar naik Flores membutuhkan durasi yang sangat panjang.

"Jumlah gempa susulan sampai dengan pukul 17.00 WIB sore hari ini, 19 Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.055 kali. Gempa susulan terbesar bermagnitudo 6,2 dan yang terkecil M 1,1," jelas Teuku.

Masyarakat lokal dilaporkan meraskan guncangan langsung sebanyak 88 kali dari ribuan gempa susulan tersebut.

"Adapun gempa yang dirasakan oleh masyarakat ada sebanyak 88 kali. Terkait proses peluruhannya, karena gempa utamanya cukup besar, yaitu M 7,7, maka penurunan aktivitas gempa memerlukan waktu kurang lebih 3 sampai 4 minggu ke depan," lanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author