Gempa NTT Timbulkan 70 Korban Jiwa dan Puluhan Ribu Pengungsi
Bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus lalu mengakibatkan 70 orang meninggal dunia dan menyebabkan lebih dari 31 ribu warga terpaksa mengungsi, seperti dilansir dari Detikcom.
Dampak kerusakan meluas hingga mencakup sembilan kabupaten dan satu kota yang tersebar di tiga provinsi, dengan total 16.000 kepala keluarga terdampak. Selain korban jiwa, tercatat sebanyak 665 orang mengalami luka-luka dan masih menjalani proses asesmen medis.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa jajarannya bersama instansi terkait terus bergerak untuk menyalurkan bantuan logistik dan melakukan evakuasi bagi para korban bencana di lapangan.
"Per hari ini telah disampaikan sebelumnya ada 70 orang meninggal dunia, 665 orang luka-luka. Sekarang masih dalam proses assessment karena ada yang luka berat, ada yang luka sedang, dan ada yang luka ringan. Ada 31.000 lebih orang yang mengungsi dan ada 16.000 KK terdampak," kata Saifullah Yusuf, Menteri Sosial.
Secara rinci, enam wilayah terdampak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dua wilayah di Sulawesi Selatan, dan satu wilayah di Nusa Tenggara Barat. Sinergi lintas kementerian serta TNI-Polri terus dikerahkan sesuai arahan presiden.
"Sebagaimana diketahui bahwa dampak gempa pada tanggal 15 Agustus itu ada 3 provinsi terdampak, 9 kabupaten terdampak, dan 1 kota terdampak. (Rinciannya) 6 (wilayah) berada di NTT, 2 berada di Provinsi Sulawesi Selatan, dan 1 di Provinsi Nusa Tenggara Barat," kata Saifullah Yusuf.
Upaya tanggap darurat difokuskan pada distribusi bahan pangan, penyediaan perlengkapan pengungsian, hingga pengiriman pakaian anak-anak dan kebutuhan pokok lainnya ke titik-titik bencana.
"Tentu semua kementerian dan lembaga, termasuk TNI-Polri, telah bekerja sama dengan pemerintah daerah, sekaligus juga mendapatkan arahan langsung dari Bapak Presiden, yang pertama-tama tentu melakukan evakuasi, kemudian memberikan dukungan logistik, termasuk yang dibuat, diselenggarakan oleh Kementerian Sosial," kata Saifullah Yusuf.
Sementara itu, Kementerian Sosial memetakan kebutuhan mendesak para pengungsi di daerah pascabencana, termasuk penanganan jalur transportasi yang terputus akibat tanah longsor.
"Jadi yang dibutuhkan di sana sekarang ini adalah kebutuhan-kebutuhan tanggap darurat, ya. Terutama permakanan, kemudian perlengkapan pengungsian, ada tenda, kemudian pakaian, selimut, termasuk pakaian ibu-ibu, pakaian anak-anak," kata Agus Jabo, Wakil Menteri Sosial.
Pemulihan infrastruktur jalan dan jaringan komunikasi menjadi prioritas Kementerian PU untuk mempermudah distribusi bantuan serta pemulihan aliran listrik ke area terdampak.
"Termasuk kemudian memastikan bahwa jalur, jalan-jalan yang ada di titik-titik bencana itu dipastikan kemudian berfungsi kembali, karena tanah longsor, banyak batu, gitu. Kemudian itu juga segera ditindaklanjuti oleh Kementerian PU. Kemudian jaringan listrik, jaringan sinyal," kata Agus Jabo.
Langkah ini sangat krusial mengingat mobilisasi relawan dan tim gabungan dibutuhkan untuk menjangkau pengungsi di berbagai lokasi, termasuk wilayah terisolir.
"Kenapa dibutuhkan mobilisasi relawan yang banyak, baik itu dari TNI-Polri, dari tim SAR, dari Tagana, ataupun tim-tim yang lain? Karena ada tiga titik pengungsi," kata Agus Jabo.
Proses identifikasi terhadap para korban di kawasan terisolir terus berjalan guna memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan penanganan yang memadai.
"Yang pertama adalah pengungsi yang terkonsentrasi di selter-selter, kemudian pengungsi mandiri, yang ketiga ini yang masih terus diidentifikasi korban-korban di daerah-daerah yang terisolir. Mudah-mudahan segera teridentifikasi," kata Agus Jabo.