Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Tapanuli Utara Pagi Ini

Share

Gempa bumi dengan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Senin pagi, 27 Juli 2026, pukul 07.50 WIB. Getaran gempa terasa hingga wilayah Sibolga dan Tarutung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berada di koordinat 1,82 Lintang Utara dan 99,13 Bujur Timur, tepat di daratan sekitar 28 kilometer tenggara Tapanuli Utara, dengan hiposenter sangat dangkal di kedalaman 3 kilometer.

Kedalaman yang dangkal menyebabkan energi gempa langsung sampai ke permukaan sehingga getarannya cukup kuat, meskipun magnitudonya tergolong sedang. BMKG mencatat getaran mencapai skala III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Sibolga dan Tarutung, di mana getaran terasa nyata di dalam rumah.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyatakan, "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar lokal di wilayah Tapanuli Utara. Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya."

Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat gempa tersebut, namun pihak berwenang terus memantau kemungkinan adanya gempa susulan. Warga diimbau memeriksa struktur bangunan rumah mereka untuk memastikan keamanan sebelum kembali beraktivitas.

Selain itu, gempa berturut-turut juga terjadi di wilayah Tapanuli Selatan pagi hari pada pukul 06.05 WIB dan 06.28 WIB dengan magnitudo 2,6 dan 2,7. BMKG menyebut pusat gempa berada di darat, 15 kilometer tenggara Tapanuli Selatan pada kedalaman 2 kilometer.

Abdul Aziz, Sekretaris Bidang Infokomdigi MUI Sumatera Utara, menjelaskan bahwa wilayah Tapanuli Utara sering mengalami gempa akibat dilalui Patahan Sumatera (The Sumatran Fault Zone). Ia menyatakan, "Daerah ini sering terjadi gempabumi seperti hari ini Senin 27 Juli dengan magnitudo M4.1 ini disebabkan oleh wilayah Tapanuli Utara dilalui oleh Patahan Sumatera."

Abdul Aziz menambahkan, secara geografis Kabupaten Tapanuli Utara berada tepat di atas lembah patahan dan dihimpit oleh dua segmen aktif, Segmen Renun di utara dan Segmen Toru di selatan, yang merupakan sumber gempa aktif dengan laju geser sekitar 9 mm per tahun.

Fenomena gempa ini terjadi karena pertemuan lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Eurasia (subduksi), aktivitas sesar mendatar di Segmen Toru, karakter gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 15 km, serta potensi gempa kembar (doublet earthquake) yang sering terjadi di wilayah tersebut.

Catatan historis menunjukkan segmen ini pernah mengalami gempa signifikan pada tahun 1984 dan 2008 dengan magnitudo 6,4. Abdul Aziz menegaskan pentingnya masyarakat tetap tenang dan mengandalkan informasi resmi dari BMKG untuk menghindari hoaks.

Beberapa hari sebelumnya, pada 22 Juli 2026, gempa magnitudo 3,0 juga mengguncang Kabupaten Tapanuli Tengah pada kedalaman 19 km akibat aktivitas subduksi, tanpa potensi tsunami menurut BMKG.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BMKG gempa bumi Tapanuli Utara
Editors Team
gilang-permana-putra
Author