Gempa Magnitudo 6,8 Guncang Kumamoto Jepang, 34 Orang Meninggal Dunia
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa pukul 16.27 waktu setempat. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 34 orang dan memicu ledakan serta kerusakan infrastruktur parah di wilayah selatan negara tersebut.
Tim SAR gabungan yang melibatkan hampir 5.000 personel Militer Jepang (SDF) terus melakukan pencarian korban di bawah reruntuhan. Proses evakuasi terhambat oleh gelombang panas yang mencapai 35 derajat Celsius serta gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,8.
Kerusakan terparah terjadi di Pusat Perbelanjaan Aeon di Kashima akibat ledakan gas pasca-gempa yang menewaskan enam pekerja toko. Sementara itu, runtuhnya cerobong asap di pabrik kertas Nippon Paper Yatsushiro menyebabkan delapan pekerja tewas dan satu orang masih tertimbun.
Dampak bencana juga mengakibatkan hampir 23.000 rumah kehilangan aliran listrik dan 75.000 rumah mengalami krisis air bersih. Sekitar 15.000 warga kini mengungsi di 400 titik pengungsian darurat, sementara beberapa produsen otomotif dan semikonduktor menghentikan sementara operasional pabrik.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus memantau keselamatan warga negara Indonesia di wilayah Kyushu pascagempa tersebut.
"Sejauh ini belum ada laporan WNI yang terdampak […] dengan seluruh warga negara Indonesia dilaporkan dalam keadaan aman," ujar Heni Hamidah, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri.
Pemerintah Jepang mengerahkan ribuan personel militer dan tim penyelamat untuk menangani dampak bencana dan membantu para korban di lokasi pengungsian.
"Bagi mereka yang sedang menunggu bantuan, kami akan mencurahkan seluruh upaya kami untuk kegiatan penyelamatan dan bantuan," kata Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang.
Kementerian Pertahanan Jepang juga mengirimkan bantuan logistik mendesak, termasuk pendingin ruangan dan pasokan air bersih ke ratusan tempat pengungsian.
"Kami melakukan segala hal yang memungkinkan untuk menjadikan penyelamatan nyawa sebagai prioritas, berupaya mendistribusikan pasokan penyelamat jiwa, dimulai dengan air," kata Shinjiro Koizumi, Menteri Pertahanan Jepang.
Dampak guncangan keras tersebut meninggalkan trauma bagi para warga lokal di Kumamoto yang sebelumnya pernah melintasi bencana serupa pada 2016.
"Mengapa? Mengapa hal ini terus terjadi di sekitar kita di Kumamoto?" ujar Shoji Yonemitsu, warga lokal.
Ia menambahkan bahwa guncangan gempa kali ini sangat menakutkan bagi masyarakat setempat.
"Guncangan saat itu berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda. Namun gempa kemarin tetap cukup menakutkan," kata Shoji Yonemitsu.
Kesaksian senada disampaikan oleh pengelola usaha lokal di Yatsushiro yang merasakan dahsyatnya getaran gempa.
"Itu adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan," ujar Kanzo Matsumoto, pengelola penginapan pemandian air panas di Yatsushiro.
Jepang yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik memang memiliki kerentanan tinggi terhadap aktivitas tektonik skala besar.
"Sekitar 10% gempa bumi di dunia dengan magnitudo 6 atau lebih tinggi terjadi di atau sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi daripada di tempat-tempat seperti Eropa atau Amerika Serikat bagian timur, tempat gempa bumi jarang terjadi," kata Shoichi Yoshioka, profesor di Universitas Kobe.
Menurut Yoshioka, peristiwa bencana yang berulang secara historis membentuk kewaspadaan tinggi masyarakat Jepang.
"Setiap kali terjadi, kita menyaksikan jatuhnya korban jiwa secara tragis, bangunan-bangunan hancur, dan tsunami yang menyebabkan kehancuran, meninggalkan kesan ketakutan yang mendalam," ujar Shoichi Yoshioka.
Tingginya frekuensi gempa turut mendorong pemerintah dan masyarakat membangun sistem mitigasi yang solid.
"Ketakutan ini kemungkinan dirasakan oleh banyak warga. Saya pikir ini berkontribusi secara signifikan terhadap alasan mengapa Jepang begitu siap," kata Shoichi Yoshioka.
Standar bangunan tahan gempa di Jepang juga menjadi perhatian utama dalam panduan keselamatan publik bagi para wisatawan asing.
"Sebagian besar bangunan cukup tahan terhadap gempa bumi," demikian saran salah satu situs web pemerintah untuk wisatawan.