Gempa Filipina M 7,7 Tewaskan Tiga Warga dan Siagakan Pesisir Sulut

Share

Guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah General Santos, Filipina selatan, pada Senin, 8 Juni 2026, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan memicu status siaga tsunami di kawasan pesisir Sulawesi Utara.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara mengonfirmasi bahwa daerah yang berhadapan langsung dengan laut kini dalam kondisi waspada guna mengantisipasi potensi gelombang susulan.

Dampak fatal di wilayah Filipina terjadi akibat runtuhnya infrastruktur bangunan di beberapa kota dekat pusat gempa, sementara rangkaian gempa susulan kuat terus terekam oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) setelah guncangan utama.

Otoritas keamanan setempat melaporkan adanya korban jiwa akibat runtuhnya struktur bangunan di wilayah Alabel dan Kota General Santos, serta kerusakan fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan dan gedung sekolah.

"Ya Tuhan, ini benar-benar runtuh! … Gedung ini benar-benar runtuh!" teriak seseorang dalam rekaman video yang dilansir kantor berita AFP, Senin (8/6/2026).

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sempat menerbitkan peringatan potensi ancaman gelombang laut yang mencakup wilayah pantai Filipina, Indonesia, Palau, Taiwan, hingga Papua Nugini.

"Banyak bangunan yang terdampak, tetapi saya tidak dapat menyebutkannya sekarang karena kami sedang sibuk dengan operasi penyelamatan yang sedang berlangsung," kata Sersan Kepala Robert Dagon dari kepolisian General Santos.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos langsung merespons situasi darurat dengan menghentikan aktivitas pendidikan di Pulau Mindanao serta memerintahkan evakuasi massal bagi seluruh penduduk di tepi pantai.

"Pindah ke tempat yang lebih tinggi sekarang. Jangan menunggu," kata Ferdinand Marcos.

Evakuasi massal tersebut langsung berjalan di wilayah Kiamba di mana puluhan ribu warga pesisir mulai bergerak menuju lokasi pengungsian yang aman.

"Hidup Anda lebih penting daripada apa pun yang tertinggal," ujarnya.

Pemerintah daerah Filipina mengonfirmasi mobilisasi masyarakat pesisir terus berjalan menyusul penutupan operasional bandara setempat.

"Hingga saat ini, 80 persen penduduk telah pindah ke tempat yang lebih tinggi," kata Agripino Dacera, kepala penanggulangan bencana regional.

Langkah pengamanan ini diperkuat dengan instruksi menyeluruh kepada aparat desa untuk memindahkan populasi ke titik-titik evakuasi.

"Semua desa di sepanjang pantai diinstruksikan untuk menuju ke pusat-pusat evakuasi," imbuhnya.

Sementara itu di Indonesia, BPBD Sulawesi Utara melaporkan fluktuasi air laut di beberapa titik pengamatan di Tahuna setinggi 0,3 meter dan Ulu Siau sebesar 0,18 meter.

"Hasil pemantauan menunjukkan tinggi gelombang yang terukur sangat kecil. Di Tahuna tercatat sekitar 0,3 meter, sementara di Ulu Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, sekitar 0,18 meter," kata Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf H Tamengkel.

Pihak berwenang memastikan bahwa hempasan gelombang minor di Kota Bitung dan Melonguane tidak sampai menimbulkan kerusakan infrastruktur yang berarti.

"Kondisi serupa juga terjadi di Tahuna dan Ulu Siau," ujarnya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk menangguhkan aktivitas pelayaran dan mendesak warga pesisir agar memverifikasi setiap informasi yang beredar.

"Kalau ada dampak, sangat kecil sekali. Yang paling kita khawatirkan justru gempa susulan karena hingga saat ini masih terus terjadi," jelasnya.

Kesiapsiagaan penuh tetap diberlakukan di daerah pesisir seperti Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow Utara, Manado, dan Bitung demi menjamin keselamatan warga.

"Kita bersyukur sampai saat ini saudara-saudara kita di wilayah kepulauan dalam keadaan aman. Namun karena masih ada potensi gempa susulan, seluruh wilayah yang berhadapan dengan Kepulauan Sangihe seperti Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow Utara, Manado, dan Bitung tetap berstatus siaga," katanya.

Di sisi lain, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manado melaporkan adanya tiga warga yang mengalami luka ringan akibat insiden tektonik tersebut.

"Untuk sementara yang kami dapati informasi terbaru yaitu ada luka ringan sebanyak 3 orang dan dampak rumah kerusakan masih kami dalami," kata Kepala Basarnas Manado, George Mercy Randang.

Dua unit hunian warga di Kabupaten Kepulauan Sangihe terdata mengalami kerusakan kategori ringan akibat rambatan getaran gempa.

"Dalam data yang ada, 2 unit rumah di daerah wilayah Sangihe itu terdampak rusak ringan," ujarnya.

Saat ini, personel penyelamat masih disiagakan di lapangan untuk memantau situasi serta memandu warga setempat menuju area aman.

"Kami melakukan koordinasi dan mengarahkan masyarakat untuk berada di daerah yang aman," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author