BMKG Catat Rangkaian Gempa Dangkal Guncang Kabupaten Bandung
Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diguncang aktivitas gempa bumi tektonik secara beruntun pada Rabu (12/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat guncangan terjadi beberapa kali sejak pagi hingga sore hari akibat aktivitas sesar aktif.
Rangkaian aktivitas seismik dimulai pada pukul 09.25 WIB dengan magnitudo 3,2, lalu disusul gempa kedua bermagnitudo 2,2 pada pukul 10.35 WIB. Guncangan berikutnya terjadi pada pukul 14.45 WIB dengan magnitudo 2,3 pada kedalaman 8 kilometer di koordinat 7,24 LS dan 107,59 BT, atau sekitar 25 kilometer tenggara Kabupaten Bandung.
BMKG juga mencatat gempa bumi bermagnitudo 2,1 pada pukul 16.39 WIB di koordinat 7,25 LS dan 107,57 BT dengan kedalaman 3 kilometer. Sementara itu, pemutakhiran data analisis BMKG untuk gempa pada pukul 15.01 WIB menunjukkan kekuatan magnitudo 3,0 dengan pusat gempa di darat pada kedalaman 4 kilometer, berjarak 27 kilometer arah selatan Kabupaten Bandung.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," kata Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Dr Hartanto.
Getaran gempa dirasakan cukup nyata di wilayah Pangalengan dengan skala intensitas II-III MMI, di mana warga merasakan getaran di dalam rumah seperti truk yang sedang melintas. BMKG memastikan rangkaian guncangan ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
"Namun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut," ungkap Dr Hartanto.
BMKG menegaskan bahwa seluruh parameter gempa awal disampaikan mengutamakan kecepatan sehingga data dapat mengalami pemutakhiran seiring analisis lanjutan. Berdasarkan hasil pemantauan hingga sore hari, tidak ditemukan adanya pergerakan tanah susulan di wilayah tersebut.
"Hingga pukul 15:30 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan," tambah Dr Hartanto.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan selalu memeriksa kondisi keutuhan bangunan tempat tinggal guna mengantisipasi potensi bahaya akibat retakan.
"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," pungkas Dr Hartanto.