Gelombang Panas Eropa Picu Ribuan Kematian Hingga Gempa Venezuela

Share

Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa memicu lonjakan angka kematian yang signifikan di Prancis. Seperti dilansir dari Detikcom, otoritas setempat mencatat lebih dari seribu orang meninggal dunia dalam kurun waktu satu hari akibat cuaca ekstrem tersebut.

Data menunjukkan sebanyak 1.200 warga Prancis meninggal dunia pada 24 Juni. Jumlah tersebut bertambah dengan adanya tambahan 1.400 jiwa yang meninggal pada rentang tanggal 25 dan 26 Juni.

Sebelum gelombang panas menyerang, tingkat kematian normal di Prancis pada bulan April dan Mei berkisar antara 900 hingga 1.000 orang per hari. Lonjakan ini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa lebih dari 1.300 kematian yang tercatat sejak 21 Juni berkaitan erat dengan gelombang panas. Kematian ini mayoritas terjadi di rumah pribadi, panti jompo, dan rumah sakit di kota Paris.

Beralih ke wilayah Amerika Selatan, tim penyelamat di Venezuela berhasil mengevakuasi seorang bayi dan dua anak laki-laki berusia 11 tahun yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan akibat gempa bumi.

Ketiga anak tersebut merupakan bagian dari 33 orang yang berhasil diselamatkan melalui operasi multinasional pada akhir pekan lalu. Kendati demikian, puluhan ribu orang lainnya dilaporkan masih belum ditemukan.

Hingga Sabtu, jumlah korban tewas akibat gempa bumi ini telah bertambah menjadi minimal 1.450 jiwa. Tim penyelamat dari berbagai negara asing terus berdatangan ke wilayah La Guaira yang menjadi area terdampak paling parah.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, sempat memberikan apresiasi kepada para relawan sipil yang mendistribusikan bantuan. Namun, ia kemudian memperketat akses ke La Guaira karena kepadatan lalu lintas dianggap menghambat mobilitas kendaraan darurat.

Ketegangan Militer Amerika Serikat dan Iran

Di kawasan Timur Tengah, situasi geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling meluncurkan serangan ke target militer masing-masing. Aksi saling balas ini mengancam kesepakatan damai sementara yang baru ditandatangani.

Militer AS melakukan gempuran baru terhadap infrastruktur militer Iran di dekat Selat Hormuz pada 28 Juni 2026. Pihak AS menyatakan tindakan ini sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal komersial sebelumnya.

Iran membalas langkah tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke Kuwait serta Bahrain yang berstatus sebagai sekutu AS. Langkah ini memicu aksi saling balas serangan lanjutan antara kedua belah pihak.

Kedua negara kini saling melempar tuduhan terkait pelanggaran kesepakatan damai awal bulan ini. Padahal, poin perjanjian tersebut mencakup komitmen penghentian permanen operasi militer di semua lini.

Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan awal mereka menyasar infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penyebar ranjau milik Iran.

Kemenangan Dramatis Kanada di Piala Dunia

Dari dunia olahraga, tim nasional Kanada yang bertindak sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia berhasil memastikan diri lolos ke babak 16 besar. Kanada sukses menumbangkan Afrika Selatan dengan skor tipis 1-0.

Kanada mendominasi jalannya pertandingan di Stadion SoFi, Los Angeles. Namun, pertahanan kokoh Afrika Selatan membuat laga tampaknya akan berakhir imbang hingga memasuki masa injury time.

Kebuntuan pecah ketika gelandang asal klub Los Angeles FC, Stephen Eustáquio, melepaskan tembakan rendah dari jarak 20 meter yang menghujam sudut bawah gawang Afrika Selatan pada menit-menit akhir pertandingan.

"Itu gol yang luar biasa," kata Eustáquio.

"Tapi ketika saya menembak, saya merasa semua orang ikut menembak bersama saya. Semua orang memberikan kekuatan pada tembakan itu dan bola masuk ke gawang."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author