Gelombang Panas Ekstrem Merusak Hasil Pertanian dan Peternakan Korea Selatan

Share

Gelombang panas ekstrem melanda Korea Selatan dan memicu kerusakan parah pada sektor pertanian serta peternakan di berbagai wilayah negara tersebut. Cuaca panas menyengat membuat komoditas kentang membusuk hingga hancur di dalam tanah sebelum sempat dipanen oleh para petani.

Kondisi yang memburuk dalam beberapa pekan terakhir ini dilaporkan oleh media lokal dan dilansir dari Detik Food. Fenomena langka ini mengejutkan para komoditas lokal karena tekstur kentang yang tertanam mendadak berubah menjadi lembek.

Seorang petani di Provinsi Gangwon, Lee Sang-hyuk, mengungkapkan kekagetannya saat mendapati hasil ladangnya hancur tak tersisa akibat suhu tanah yang terlampau tinggi.

"Sistem penanganan krisis nasional memerlukan perombakan mendasar," kata Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung.

Presiden Lee Jae-myung menambahkan bahwa fenomena cuaca ekstrem semacam ini kini telah menjadi ancaman nyata yang lumrah terjadi di wilayahnya.

Kerusakan akibat iklim ekstrem ini juga meluas ke komoditas lain seperti tanaman kubis milik Lee Sang-hyuk yang berpotensi merugi hingga belasan juta won. Selain sektor tanaman, The Korea Times mencatat lebih dari 900.000 ekor hewan ternak dan 864.000 ekor ikan budi daya mati akibat lonjakan suhu air dan udara.

Pasokan pangan yang terganggu memicu kenaikan harga sayuran secara drastis di pasar lokal, di mana harga bayam melonjak lebih dari 150 persen dan selada naik hingga 41,7 persen. Durasi penyimpanan bahan makanan pun menjadi jauh lebih singkat dari kondisi normal.

Berdasarkan data DW, dampak suhu panas ekstrem sejak 15 Mei hingga 2 Agustus telah merenggut setidaknya 16 korban jiwa dan menyebabkan 2.025 orang dirawat karena penyakit terkait cuaca panas. Pemerintah Seoul bahkan telah mengeluarkaan peringatan gelombang panas pertama untuk wilayah ibu kota pada awal Agustus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author