Gelombang Panas Ekstrem di Belanda Memicu Lonjakan 911 Kematian
Lonjakan kematian sebanyak 911 kasus di atas rata-rata normal terjadi di Belanda akibat dampak gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut pada periode 22 Juni hingga 5 Juli 2026.
Kenaikan angka kematian ini dilaporkan di seluruh wilayah Belanda, dengan area selatan dan timur mencatat lonjakan tertinggi akibat suhu udara yang paling menyengat di negara tersebut.
Kondisi fatal ini dilansir dari Detik Travel melalui laporan Lembaga Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) yang mengidentifikasi bahwa cuaca panas ekstrem sangat berpotensi menjadi pemicu utama kematian berlebih ini.
Jaringan pemantauan angka kematian Eropa, EuroMOMO, turut mengonfirmasi skala krisis ini dengan mencatat total sekitar 10.650 kematian di seluruh Benua Eropa akibat gelombang panas yang sedang berlangsung.
Otoritas kesehatan Eropa memberikan perhatian serius pada tingginya angka fatalitas yang tercatat selama periode musim panas ini.
"Terjadinya angka berlebih seperti ini dalam situasi saat ini sangat tidak biasa. Angkanya begitu tinggi," ungkap Kepala Dokter di Statens Serum Institut Denmark, Lasse Vestegaard.
Selain korban jiwa, suhu tinggi juga mengganggu operasional berbagai sektor publik seperti pariwisata dan sistem transportasi kereta api di Belanda.
Kebun Binatang Burgers di Arnhem terpaksa beroperasi lebih awal agar pengunjung terhindar dari sengatan terik, sementara beberapa taman hiburan lain memilih menutup layanan pada hari-hari dengan suhu paling ekstrem.
Perusahaan perkeretaapian Belanda juga memangkas jadwal perjalanan demi mencegah risiko kerusakan teknis dan kegagalan fungsi sistem pendingin udara akibat suhu malam hari yang tetap tinggi.