Gelombang Panas Ancam Pasokan Listrik PLTN Prancis dan Eropa
Kemandirian energi berbasis teknologi nuklir di Eropa kini menghadapi ujian berat. Seperti dilansir dari Detikcom, penurunan debit air akibat cuaca ekstrem mengancam operasional pembangkit di berbagai kawasan. Kondisi kritis terlihat di Paks, Hungaria, di mana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hanya memfungsikan satu dari empat unit turbinnya.
Debit Sungai Donau yang menyusut drastis memicu kekhawatiran akan penghentian total operasional fasilitas tersebut. Dampak terbesar terjadi di Prancis yang menjadi pusat gravitasi energi nuklir benua tersebut. Penurunan daya reaktor di negara ini berpotensi merubah posisinya dari pengekspor listrik utama menjadi pembeli energi dari negara tetangga.
Laporan Mahkamah Audit Prancis pada 2023 mencatat bahwa kerugian produksi tahunan reaktor akibat lonjakan suhu air periode 2000–2022 biasanya di bawah satu persen. Pada musim panas ekstrem 2003, penurunan produksi total tercatat sebesar 1,5 persen.
Namun, dampak jangka pendek dinilai sangat signifikan. Pada gelombang panas akhir Juni dan pertengahan Juli 2026, kapasitas maksimum reaktor Prancis berkurang sementara hingga delapan sampai sembilan gigawatt. Angka tersebut setara dengan seperlima total kapasitas nuklir musim panas yang tidak dapat dimanfaatkan.
Meski terjadi pemangkasan, operator jaringan memastikan cadangan daya Prancis selama gelombang panas 2026 tetap mencukupi. Tingginya pasokan listrik tenaga surya dan penurunan permintaan musim panas membantu menjaga posisi Prancis tetap sebagai pengekspor listrik.
Aturan Lingkungan dan Ancaman Suhu Sungai
Penyebab utama pengurangan kapasitas reaktor adalah regulasi perlindungan lingkungan. Reaktor nuklir membuang sisa panas ke perairan. Saat debit sungai rendah, suhu air meningkat lebih cepat sehingga membahayakan ekosistem dan biota perairan.
Dalam situasi darurat, otoritas dapat memberikan izin pengecualian batas suhu sementara kepada pengembang listrik EdF. Kebijakan ini memungkinkan produksi listrik tambahan tetap berjalan di bawah pengawasan ketat.
Penggunaan menara pendingin juga tidak sepenuhnya membebaskan PLTN dari kendala cuaca. PLTN Golfech di Sungai Garonne dan PLTN Chooz di Sungai Maas tetap harus memangkas kapasitas demi menjaga debit air minum serta mengontrol suhu perairan.
Modernisasi Pertahankan Pasokan Energi
Penurunan produksi nuklir dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya dipicu oleh iklim, melainkan juga masalah teknis. Korosi retak akibat tegangan dan penundaan jadwal pemeliharaan sempat menekan produksi listrik hingga 82 terawatt-jam lebih rendah dibanding 2021. Mahkamah Audit memperkirakan gangguan reaktor akibat faktor cuaca bisa meningkat hingga empat kali lipat pada 2050. Menghadapi risiko ini, Prancis menyiapkan langkah modernisasi melalui pembangunan menara pendingin tambahan dan pengambilan air yang lebih dalam.
Pemerintah Prancis merencanakan empat dari enam reaktor modern tipe EPR2 terbaru dibangun di kawasan pesisir Penly dan Gravelines. Sementara itu, pasangan reaktor di Bugey akan dilengkapi menara pendingin untuk menekan dampak termal pada Sungai Rhone. Langkah pemangkasan reaktor ini langsung berdampak pada pasar energi regional. Pembatasan daya 4,1 gigawatt pada 24 Juni lalu menekan volume ekspor listrik Prancis dan memicu lonjakan harga energi di Prancis serta Jerman ke level tertinggi sejak Januari 2025.