Gelombang Panas Ekstrem Ancam Jaringan Listrik AS dan Laga Piala Dunia

Share

Gelombang panas berbahaya diperkirakan akan melanda wilayah timur Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Situasi ini mengancam keandalan jaringan listrik menjelang sejumlah pertandingan penting Piala Dunia dan libur akhir pekan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli.

Suhu diperkirakan mencapai 90 derajat Fahrenheit atau sekitar 32 derajat Celsius di Newark pada Selasa. Kondisi ini terjadi beberapa jam sebelum pertandingan babak gugur di Stadion MetLife yang terbuka di New Jersey, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Merespons potensi rekor lonjakan permintaan listrik, Departemen Energi AS memerintahkan pembangkit listrik dalam sistem PJM untuk beroperasi dengan kapasitas penuh. Jika diperlukan, mereka diizinkan mengabaikan sebagian batasan lingkungan.

Menurut Badan Cuaca Nasional, ratusan rekor suhu harian diperkirakan akan menyamai atau melampaui rekor sebelumnya. Saat ini, lebih dari 200 juta orang tinggal di wilayah yang berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem yang mencakup puluhan negara bagian.

Pada Kamis, suhu diperkirakan menembus di atas 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 38 derajat Celsius dari Washington hingga Boston. Fenomena kubah panas atau heat dome terbentuk karena adanya area bertekanan tinggi yang menjebak udara panas di wilayah tersebut.

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, menetapkan status darurat panas di kota tersebut hingga akhir pekan libur. Sementara itu, Central Park bersiap mencatat suhu 100 derajat Fahrenheit untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

"Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya, dan akan memengaruhi setiap bagian kota kami," kata Mamdani dalam konferensi pers pada Selasa.

Kelembapan udara yang tinggi diperkirakan membuat panas siang hari terasa jauh lebih menyengat, sedangkan suhu malam hari tidak banyak memberikan kesejukan. Risiko penyakit akibat panas dilaporkan meningkat di semua kelompok usia.

Warga New York akan diberikan akses ke ratusan pusat pendinginan, termasuk pusat pendinginan bergerak yang menggunakan van serta perpanjangan jam operasional kolam renang umum. Namun, cuaca ekstrem tetap memicu tantangan besar bagi pemain dan penonton Piala Dunia.

Kombinasi panas ekstrem dan kelembapan tinggi diprediksi membuat suhu terasa hingga 8 derajat Fahrenheit lebih tinggi dari normal sampai ke Ontario, Kanada. Kondisi ini memengaruhi Toronto saat Portugal dijadwalkan menghadapi Kroasia pada Kamis pukul 19.00 waktu setempat.

Kekhawatiran mengenai risiko tekanan panas mendorong FIFA menerapkan jeda minum selama pertandingan. Sementara itu, serikat pemain profesional dunia, FIFPRO, merekomendasikan agar pertandingan ditunda jika tingkat tekanan panas akibat cuaca melampaui ambang batas Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT).

Direktur Operasi Olahraga di DraftKings Inc., Johnny Avello, menyatakan bahwa badai petir sore hari juga biasa terjadi selama gelombang panas di wilayah timur AS. Hujan dapat membuat bola melaju lebih cepat di lapangan sehingga menambah tantangan bagi penjaga gawang serta memengaruhi aktivitas olahraga digital.

Gelombang panas paling ekstrem pekan ini diperkirakan melanda kawasan Mid-Atlantic dan memberikan tekanan besar pada jaringan listrik kelolaan PJM Interconnection LLC. Jaringan yang melayani 67 juta penduduk di 13 negara bagian ini memperkirakan permintaan listrik mencapai rekor 166 gigawatt pada Kamis.

PJM telah menetapkan status darurat tingkat satu dan memperingatkan potensi beban listrik tinggi serta tegangan rendah. Di sisi lain, Midcontinent Independent System Operator Inc. (MISO) di wilayah tengah AS juga mengeluarkan deklarasi operasi konservatif untuk menunda pemeliharaan jaringan transmisi.

Sistem kelistrikan Amerika Serikat menghadapi tantangan besar musim panas ini karena harus memenuhi lonjakan permintaan dari pusat data. Bulan lalu, Departemen Energi AS bahkan mengeluarkan perintah darurat penggunaan pembangkit cadangan untuk mencegah pemadaman di kawasan Mid-Atlantic, di tengah proses lelang pasokan listrik PJM hingga 7 Juli mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author