Gedung Kantor Pos Indonesia Kota Tua Jadi Spot Estetis
Kawasan Kota Tua Jakarta menyimpan berbagai peninggalan bersejarah yang kini bertransformasi menjadi lokasi favorit para wisatawan. Salah satu daya tarik yang mencolok adalah bangunan megah bercat putih yang berfungsi sebagai Gedung Kantor Pos Indonesia, Jakarta.
Seperti dilansir dari Detik Travel, tempat ini tidak sekadar menjadi lokasi pengiriman paket. Bangunan kolonial tersebut merupakan saksi bisu perkembangan layanan pos di tanah air yang masih kokoh berdiri hingga sekarang.
Aktivitas penjelajahan di lokasi bersejarah ini terekam saat pemandu dari Tur Pemandu Gratis UPK Kota Tua pada rute "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now", Gilang Ramadhan, membagikan kisah masa lalu bangunan tersebut pada Selasa (7/4/2026).
Layanan pos di Indonesia sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1746. Namun, struktur fisik gedung yang berdiri di Kota Tua saat ini didirikan pada era yang berbeda, yakni pada tahun 1829.
"Awalnya institusi atau gedung Pos Indonesia itu hanya gedung sederhana biasa. Tapi karena memang kebutuhan yang akhirnya membutuhkan tempat yang jauh lebih besar dan representatif, pemerintah Hindia Belanda memutuskan bikin gedung yang lebih besar. Nah, inilah gedungnya," kata Gilang.
Meskipun memiliki usia yang sangat tua, bangunan ini bukan merupakan kantor pos pertama di nusantara. Institusi Post en Telegraafkantoor mula-mula memang beroperasi di pusat pemerintahan Batavia dengan kondisi sederhana, namun kantor pos pertama yang representatif sebenarnya dibangun di wilayah Pasar Baru yang kini populer sebagai Pos Bloc.
"Kalau bicara gedungnya, ini memang salah satu gedung gedung tua, gedung Pos Indonesia yang cukup tua, tapi bukan gedung Pos Indonesia yang pertama. Kalau yang pertama itu dia ada di daerah Pos Bloc atau daerah Pasar Baru, Weltevreden," kata Gilang.
Fungsi Operasional dan Pemanfaatan Area Komersial
Kondisi fisik luar bangunan tampak terawat dengan sapuan cat yang bersih. Pada bagian atap terpasang plang bertuliskan "POS IND Logistik Indonesia", sementara dinding fasadnya dilengkapi dengan logo "POSPAY" dan "Pos Aja!".
Gedung ini tetap menjalankan fungsi logistik aslinya melalui kantor pos operasional yang berada di sisi kanan dalam bangunan. Layanan kepada masyarakat dibuka setiap hari hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
Area lain dari gedung raksasa ini juga dimanfaatkan untuk keperluan komersial karena aset tersebut dikelola sepenuhnya oleh BUMN/Danantara Pos Indonesia, bukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Jadi disewakan ada yang jadi food court, ada yang jadi restoran cepat saji, ada kapsul hotel, sama di atas juga ada wahana kereta hantu Kota Tua. Jadi memang semua ruangan disewakan dan itu boleh, karena memang yang mengelolanya ya bagian Pos Indonesia," kata Gilang.
Proses komersialisasi ini berjalan beriringan dengan aturan pelestarian yang sangat ketat dari pihak pengelola cagar budaya.
"Tentunya tidak mengubah atau merusak fasad maupun bentuk bangunan, karena memang ini adalah gedung cagar budaya," ujar dia.
Daya Tarik Kotak Surat Klasik Brievenbus
Area depan gedung ini menyajikan daya tarik lain berupa kotak surat peninggalan zaman dahulu yang terbuat dari besi cor berwarna oranye. Struktur ikonik ini memiliki ukiran bertuliskan "BRIEVENBUS." pada bagian atas dan kata "BUSLICHTING" di bagian pintunya.
"Setiap gedung Pos Indonesia yang statusnya cagar budaya pasti dilengkapi dengan kotak posnya. Namanya Brievenbus atau bis surat," kata Gilang.
Kotak surat jadul ini sudah tidak difungsikan lagi untuk mengirim pesan, melainkan dirawat sebagai elemen dekorasi sejarah. Ornamen serupa dapat dijumpai di kantor pos bersejarah lain seperti di Bandung, Yogyakarta, dan Pos Bloc Jakarta.