Fosil Dinosaurus Haolong dongi Ungkap Sel Kulit dan Duri Berongga
Penemuan spesimen dinosaurus muda berusia sekitar 125 juta tahun dari China mengungkap keberadaan struktur sel kulit hingga tingkat mikroskopis. Fosil spesies baru bernama Haolong dongi ini juga membawa bukti awal tentang jenis duri berongga yang belum pernah ditemukan sebelumnya pada dinosaurus. Dikutip dari Detik iNET, spesimen sepanjang 2,45 meter tersebut ditemukan di Formasi Yixian, Provinsi Liaoning, China timur laut.
Kerangka individu muda ini terawetkan dengan sangat baik, mencakup sisa kulit, sisik, hingga duri-duri berongga di area leher, punggung, serta samping tubuhnya. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution menjelaskan bahwa struktur jaringan kulit spesimen ini terawat hingga detail tingkat sel. Para peneliti memanfaatkan pemindaian sinar-X beresolusi tinggi, tomografi, dan analisis histologi untuk menganalisis fosil tersebut.
Dari analisis itu, ilmuwan mendapati bahwa dinding duri pada fosil tidak terbentuk dari tulang, melainkan dari jaringan kulit yang mengalami mineralisasi. Di dalam jaringan tersebut, peneliti mengidentifikasi lapisan terluar kulit yang mengeras (stratum corneum), lapisan epidermis, hingga sel-sel keratinosit yang masih memperlihatkan struktur inti sel.
"Menemukan kulit dinosaurus yang terawetkan hingga tingkat sel merupakan sesuatu yang luar biasa. Ini memberi kita jendela untuk memahami biologi hewan-hewan tersebut pada tingkat yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan," kata paleontolog Pascal Godefroit, penulis senior studi ini, dikutip dari ScienceDaily, Minggu (2/8/2026). Namun, para peneliti menegaskan bahwa penemuan sel ini bukan berarti ditemukannya materi biologis aktif atau DNA. Sisa-sisa yang tertinggal pada fosil hanyalah salinan mineral dari struktur anatomi sel asli.
Selain keawetan selnya, penemuan duri kulit berongga menjadi sorotan utama karena belum pernah ditemukan pada dinosaurus lain. Meskipun ilmuwan kerap menjumpai proto-bulu atau duri bersisik pada reptil modern, struktur milik Haolong dongi dinilai berbeda dan disinyalir berevolusi secara terpisah. Sebagian besar duri fosil ini berukuran antara 2 hingga 7 milimeter, walau ada beberapa yang diperkirakan mencapai ukuran lebih dari 4 sentimeter. Bentuk duri yang serupa dengan duri landak menimbulkan dugaan bahwa organ tersebut berfungsi sebagai perlindungan dari serangan predator.
"Struktur ini kemungkinan berfungsi sebagai pertahanan terhadap predator, tetapi juga bisa berperan dalam mengatur suhu tubuh atau sebagai alat peraba," demikian penjelasan tim peneliti. Penemuan Haolong dongi turut memperluas pemahaman mengenai keanekaragaman kulit dinosaurus pemakan tumbuhan dari kelompok Iguanodontia, yang telah dipelajari selama lebih dari dua abad. Keberadaan duri berongga ini menunjukkan variasi kulit dinosaurus jauh lebih beragam dari perkiraan sebelumnya.
Mengingat fosil yang ditemukan merupakan spesimen muda, para ilmuwan belum dapat memastikan apakah bentuk duri berongga ini tetap bertahan hingga dinosaurus mencapai usia dewasa. Penemuan ini sekaligus mendorong pendekatan baru dalam mengkaji evolusi kulit dinosaurus non-burung secara mikroskopis.
"Penemuan ini memberikan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya mengenai mikroanatomi kulit dinosaurus non-burung dan menunjukkan bahwa evolusi kulit dinosaurus jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan," tulis tim peneliti dalam studinya.