Ferran Torres Alami Putus Hubungan di Tengah Piala Dunia 2026

Share

Penyerang Tim Nasional Spanyol dan FC Barcelona, Ferran Torres, dilaporkan kembali melajang setelah mengakhiri hubungan asmaranya dengan pembuat konten Martina Alguero atau Martina Hunter di tengah gelaran Piala Dunia 2026 pada Juli 2026.

Kabar keretakan hubungan penyerang berusia 26 tahun asal Foios tersebut mencuat tepat sebelum pertandingan perempat final antara Spanyol melawan Belgia. Hubungan romantis keduanya, yang pertama kali terendus media saat kedapatan berlibur bersama di Ibiza pada Mei 2026, kini dipastikan telah berakhir setelah mereka kedapatan saling berhenti mengikuti di media sosial Instagram dan TikTok.

Jurnalis Javier de Hoyos menjadi pihak yang pertama kali mengungkap berakhirnya jalinan kasih tersembunyi antara sang pesepak bola dengan perempuan yang berprofesi sebagai penata busana tersebut.

"Ferran está soltero. Sí, a ver, realmente nunca había dejado de estar soltero porque no había iniciado una relación con la influencer con la que os dije que tenía un romance, pero sí que es cierto que este romance ya se ha acabado" ujar Javier de Hoyos.

Pihak terdekat dari kedua belah pihak membenarkan bahwa kedekatan mereka saat ini sudah selesai, sehingga sang pemain menjalani sisa kompetisi Piala Dunia tanpa pasangan. Pemain berjuluk El Tiburon ini sebelumnya juga sempat menjalin hubungan resmi dengan putri Luis Enrique, Sira Martinez, dari 2021 hingga 2023, serta sempat terlihat bersama Lucia Domenech pada akhir 2025.

"Esta noche se producía al dejarse de seguir en redes sociales. Ferran le dejaba de seguir a ella y ella le dejaba de seguir a él. He podido hablar con el entorno más cercano de ambos y me confirman que sí, que ese romance, al menos por el momento, ya se ha finalizado ahora mismo. Ferran está viviendo el Mundial soltero" kata Javier de Hoyos.

Kisah asmara ini menambah daftar panjang fase berat yang dilalui sang pemain di luar lapangan hijau. Dalam wawancara mendalam yang dilansir El Debate, pemain kelahiran 29 Februari 2000 tersebut sempat buka-bukaan mengenai trauma masa kecil saat orang tuanya bercerai ketika ia berusia 12 tahun, hingga depresi akibat penurunan performa di lapangan.

«El domingo por la noche era llorar y llorar» kenang Ferran Torres.

Perceraian orang tuanya memaksa Ferran Torres tinggal di asrama akademi Valencia CF demi menenangkan diri, meskipun jarak rumahnya di Foios hanya berkisar 30 menit dari pusat kota Valencia. Berada di lingkungan asrama bagi anak lokal sempat membuatnya merasa malu dan menutup diri dari rekan-rekannya.

«Fue un shock para mí porque era bastante pequeño y no supe cómo afrontarlo» jelas Ferran Torres.

Kondisi terisolasi tersebut diakui sang pemain telah menuntutnya untuk tumbuh dewasa lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Perubahan ini membentuk karakternya menjadi sosok yang sangat tertutup setiap kali menghadapi masalah personal.

«Allí vivía con la gente que era de fuera, era un caso raro, me daba vergüenza decir por qué estaba allí. No lo contaba, intentaba inventarme de dónde era» ungkap Ferran Torres.

Kerinduan kepada orang tua yang tinggal dekat namun terasa jauh membuat hari-hari terakhir di akhir pekan menjadi momen yang sangat emosional baginya. Pengalaman masa kecil ini diakuinya berdampak besar pada caranya mengelola emosi hingga saat ini.

«El domingo por la noche era llorar y llorar. Tenerlos tan cerca pero a la vez tan lejos era un poco duro. Fue duro, pero me hizo madurar antes de hora. Por eso a dia de hoy soy la persona que soy» tambah Ferran Torres.

Kebiasaan memendam masalah sendirian terus berlanjut hingga ia menembus skuad utama Valencia di usia 17 tahun, pindah ke Manchester City seharga 25 juta euro, hingga akhirnya berlabuh di Barcelona pada 2021. Ketika performanya menurun dan kritik tajam membanjiri media sosial, ia sempat terperosok ke dalam masalah kesehatan mental yang parah.

«No lo compartía con nadie, me encierro en el baño yo solo y a solucionar los problemas yo solo. Siempre he sido muy cerrado, muy mío» aku Ferran Torres.

Mantan pemain sayap City ini sempat menolak kenyataan bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi mental yang tidak baik-baik saja. Kurangnya jam latihan ekstra di luar lapangan memperparah situasi tersebut sebelum ia akhirnya mencari bantuan psikolog profesional.

«No quería admitir ni creerme que estaba mal. Sabía que me había descentrado, que no entrenaba tanto, que no echaba las horas, que no me preparaba fuera del fútbol, pero no quería afrontarlo. Pensaba que estaba bien, pero todo el mundo sabía que yo no estaba bien» papar Ferran Torres.

Kehilangan kepercayaan diri akibat jarang dimainkan sempat membuat masa-masa tersebut terasa seperti sumur tanpa dasar yang menghancurkan seluruh hasil kerja kerasnya. Kritik keras dari jejaring sosial menjadi salah satu pemicu utama ambruknya mentalitas bertanding sang penyerang.

«No tenía el nivel de autoconfianza que tengo ahora porque no jugaba, me iba a casa, que quería matar a alguien y se me iba todo lo que había trabajado. Era un pozo sin fondo, fue un año muy duro» pungkas Ferran Torres.

Saat ini, demi menjaga kestabilan emosinya, ia memilih sepenuhnya mengabaikan komentar negatif di media sosial setelah pertandingan usai. Bersama pelatih Luis de la Fuente dan Nico Williams, ia kini secara terbuka bersandar pada keyakinan Katolik yang dianutnya sebagai pilar kekuatan.

«Ahora mismo no me afectan. Todo lo que expresa o puede contaminar no lo leo, ni le doy importancia porque no me va a provocar nada en mi vida. Cuando se acaba el partido, se acaba y ya. Ahí ya no soy Ferran futbolista, soy Ferrán persona» tegas Ferran Torres.

Ferran Torres menegaskan bahwa simbol-simbol keagamaan yang dibawanya menjadi sumber kekuatan utama untuk tetap tegap berdiri di tengah terpaan masalah karier maupun asmara. Saat ini, fokus sang pemain sepenuhnya tertuju pada sisa laga di Piala Dunia 2026 bersama Timnas Spanyol.

«Tengo la cruz y una Virgen. Al final, creo que es algo que me da mucho apoyo, que me da tener muchísima fe y para mí es algo muy importante» ujar Ferran Torres.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author