Fabiola Elizabeth Agnes Diduga Terlibat Sindikat Love Scamming Crypto
Jaringan sindikat penipuan investasi crypto internasional bermodus love scamming diduga melibatkan mantan istri Reza Smash, Fabiola Elizabeth Agnes, sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 di Indonesia.
Aksi penipuan komplotan tersebut dilaporkan telah menjaring sekitar 5.000 target dengan total 133 orang menjadi korban resmi. Berdasarkan data penegakan hukum, jumlah kerugian yang dialami para korban mencapai angka fantastis sebesar Rp41 miliar.
Skema kejahatan siber ini dijalankan secara terstruktur melalui pembagian kerja, di mana tim pemasaran bertugas melakukan penyaringan awal terhadap calon korban menggunakan identitas dan foto profil palsu yang menarik di media sosial. Kelompok ini sengaja menyasar warga mancanegara sebagai target operasi utama mereka.
Keterlibatan Fabiola dimulai ketika calon korban memerlukan pendekatan personal lebih lanjut sebelum memutuskan untuk mengirimkan uang ke platform yang disediakan.
"Jadi marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melayani video call. Itu supaya korban berinvestasi," kata Himawan.
Pihak sindikat sengaja memanfaatkan figur Fabiola yang berprofesi sebagai model karena dinilai memiliki kemampuan komunikasi bisnis yang mumpuni. Hubungan emosional sengaja dibangun terlebih dahulu agar korban bersedia mengirimkan dana secara bertahap.
"Jadi calon korban dibuat dekat dulu secara personal, baru mereka meminta transfer dana secara bertahap," ujar Himawan.
Setelah korban terbujuk, pelaku mengarahkan pengiriman dana ke sebuah situs web trading crypto. Sistem pada platform investasi tersebut ternyata telah dimanipulasi sepenuhnya oleh tim IT dari sindikat itu untuk mengelabuhi para investor.
Munculnya kasus penipuan berskala internasional ini memicu respons keras dari aparat kepolisian yang menangani perkara tersebut.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto memberikan peringatan keras kepada masyarakat luas agar tidak mudah tergiur oleh skema investasi serupa yang diawali lewat perkenalan di dunia maya.
"Masyarakat diharapkan tak mudah mempercayai ajakan berinvestasi, terutama dari orang yang baru dikenal melalui media sosial," kata Artanto.